Skip to main content
bukitlingkau.blogspot.com



MATERI PERTEMUAN KE 1 TENTANG KATARISTIK PERUSAHAAN JASA
1.        DEFENISI PERUSAHAAN JASA
Perusahaan jasa merupakan perusahaan yang produk utamanya adalah jasa. Karakteristik perusahaan jasa yaitu produk yang dihasilkan atau dijual merupakan produk yang tidak berujud namun dapat dirasakan. Contoh perusahaan jasa antara lain yaitu perusahaan jasa periklanan, jasa transportasi, jasa pengiriman barang dan dokumen, hotel, salon, bengkel, dokter, konsultan, persewaan, dan lain-lain. Meskipun produk yang dijual tidak dapat dilihat, jasa dapat dinilai dengan nominal rupiah. Harga jasa dapat dilihat dari tarif yang tertera untuk jasa tersebut. Perusahaan jasa merupakan perusahaan yang menghasilkan jasa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Tujuan utama perusahaan jasa adalah untuk memperoleh keuntungan dan kepuasan pelanggan.
2.      KATERISTIK ATAU CIRI-CIRI PERUSAHAAN JASA
Beberapa karakteristik perusahaan jasa antara lain (Sagoro, 2015):
1.         Jasa bersifat tak nampak Produk yang dihasilkan perusahaaan jasa tidak memiliki wujud. Namun, jasa tetap bisa dirasakan manfaatnya oleh konsumen. Sebagai contoh, jasa dokter, jasa pijat, atau salon. Konsumen tidak dapat melihat jasa periksa, pijat, maupun potong rambut, namun konsumen dapat merasakan hasil dari kegiatan jasa tersebut.
2.         Tidak terdapat persediaan jasa Jasa yang dihasilkan oleh perusahaan tidak ada wujudnya dan biasanya hanya dapat digunakan satu kali saja untuk setiap transaksi. Jasa berbeda dengan produk berupa barang sehingga di perusahaan jasa tidak ada persediaan jasa. Dengan demikian, perusahaan tidak memerlukan gudang untuk menyimpan jasa.
3.         Jasa yang dihasilkan tidak seragam Jasa yang diberikan perusahaan kepada konsumen tidak sama. Sebagai contoh, saat Anda servis kendaraan di bengkel tertentu dalam dua kali kesempatan, tentunya Anda akan mendapatkan hasil yang berbeda, walaupun kendaraan tersebut ditangani oleh orang yang sama. Contoh lain adalah orang potong rambut di salon. Walaupun ditangani oleh orang yang sama, hasil pada saat potongan pertama dan kedua belum tentu sama.
4.         Harga jasa ditentukan berdasarkan tarif Harga jasa yang ada di setiap perusahaan ditentukan oleh masing-masing perusahaan yang bersangkutan. Meskipun jenis jasanya sama, harga dari jasa tersebut dapat berbeda. Sebagai contoh, harga jasa semir rambut di Salon A berbeda dengan harga jasa semir rambut di Salon B, walaupun bahan pewarna yang digunakan sama. Harga jasa ini tergantung pada tarif yang ditentukan oleh masing-masing salon.
Menurut Alam S, 2016 : 68 Menyatakan bahwa ciri-ciri perusahaan jasa adalah menawarkan layanan yang tidak berwujud dan standar harga untuk suatu layanan sulit diukur.
3.      CONTOH PERUSAHAAN JASA
·         periklanan
·         Jasa Transfortasi
·         Jasa Pengiriman
·         Hotel
·         Salon
·         Bengkel
·         Dokter
·         DLL

MATERI PERTEMUAN KE DUA: BUKTI TRANSAKSI
1)      SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA
Adapun siklus akuntansi perusahaan jasa tercatat pada alur sebagai berikut:
sumber: anik.w, dkk. 2014 buku siswa ekonomi kelas xii cempaka putih hal 67
Pada tabel siklus diatas maka dapat kita ketahui bahwa siklus akuntansi perusahaan jasa terbagi menjadi tiga tahap yaitu: tahap pencatatan, tahap pengikhtisaran dan tahap pelaporan.
a.       Tahap pencatatan adalah tahap mencatat transaksi keuangan melalui bukti transaksi yang ada yang kemudian dimasukan ke jurnal umum yang kemudian dipsing ke buku besar.
b.      Tahap pengihtisaran adalah tahap membuat ringkasan dari data keuangan yang sudah diprses sebelumnya. Dengan tujuan agar data-data keuangan perusahaan semakin mudah dibaca. Tahap ini  diawali dengan membuat neraca saldo yang diringkas dari buku besar. Serta membuat jurnal penyesuaiana dan kertas kerja.
c.       Tahap pelaporan adalah tahap tahap terakhir diamana tahap ini adalah tahap untuk menyajikan laporan keuangan dalam bentuk laporan laba rugi, lapran posisi keungan atau neraca penutup,  perubahan modal, laporan arus kas.

2)      BUKTI TRANSAKSI
Bukti transaksi adalah salah satu bentu pertanggung jawaban pelaksanaan Kerja kepada atasan bahwa transaksi tersebut telah dilakukan. Bukti transaksi empunyai kegunaan untuk memastikan keabsahan transaksi yang dicatat.dan dapat dijadikan sebagai rujukan jika terjadi kesalahan dikemudian hari.

3)      JENIS JENIS BUKTI TRANSAKSI
1.      JENIS TRANSAKSI
Transaksi dalam sebuah perusahaan dapat digolongkan menjadi dua golongan:
A.    Transaksi transaksi pengeluaran kas
Transaksi pengeluaran kas adalah transaksi yang menyebabkan kas suatu perusahaan berkurang dimana terdiri dari pelunasan utang dan pembelian. Pelunasan utang biasanya bukti transaksinya berupa cek, dan bukti kas keluar sedangkanjenis transaksi yang bersifat pembelian menggunakan bukti transaksi berupa nota kontan dan faktur pembelian.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:
 sumber: buku terbitan erlangga kelas XI suwerli dkk 2007

B.     Transaksi penerimaan kas
Transaksi penerimaan kas yang dilakukan perusahaan bisanya pembayaran secara tunai dari pelanggan atas penyelesaian jasa, atau dapat juga terjadi jika terjadi transaksi pelunasan piutang dari pelanggan. Hal tersebut dapat terlihat seperti gambar dibawah ini:

 





sumber: buku terbitan erlangga kelas XI suwerli dkk 2007

2.      JENIS BUKTI TRANSAKSI
Berdasarkan sumber pencatatan akuntansi bukti transaksi dapat digolongkan sebagai berikut:
A.    Bukti transaksi internal
Bukti transaksi internal adalah bukti transaksi yang terjadi dilingkungan atau ruang lingkup perusahaan yang bersangkutan.
B.     Bukti transksi eksternal
Bukti transaksi internal adalah bukti transaksi yang terjadi diluar dilingkungan atau diluar ruang lingkup perusahaan yang bersangkutan.
3.      Contoh bukti transaksi
a.       Memo
Bukti transaksi yang dibuat oleh pimpinan perusahaan atau orang yang diberikan wewenang untuk suatu kejadian-kejadian yang berlangsung didalam internal perusahaan bersangkutan. Contoh memo seperti untuk mencatat gaji pegawai yang masih harus dibayar pada akhir periode. 
Gambar memo

b.      Faktur
Faktur merupakan pernyataan tertulis mengenai barang yang dijual, baik jumlah dan harganya. Faktur dikeluarkan oleh pihak yang menjual kepada pihak pembeli. Faktur berfungsi untuk bahan pertimbangan pembeli untuk meneliti barang-barang yang dibelinya. Bukti ini akan diperlukan juga loh saat terjadi retur pembelian atau retur penjualan.
Faktur sendiri dibedakan menjadi dua yaitu faktur pembelian dan faktur penjualan. Bagi pihak pembeli, faktur yang diterima merupakan faktur pembelian, tetapi bagi penjual, faktur yang diterima merupakan faktur penjualan.
Faktur memuat informasi yang terdiri dari :
o   Nama dan alamat penjual
o   Nomor faktur
o   Nama dan alamat pembeli
o   Tanggal pesanan
o   Syarat pembayaran
o   Keterangan mengenai barang (jenis barang, harga satuan, barang kuantitas barang dan jumlah harga).
Gambar Faktur Tagihan

c.       Cek
Cek bisa diartikan sebagai perintah pembayaran yang dibuat oleh pihak yang mempunyai rekening di suatu bank, dengan tujuan agar bank tersebut membayarkan sejumlah uang yang tertulis kepada orang yang membawa surat atau yang namanya tertulis di surat cek tersebut.
Cek terdiri dari dua bagian yaitu :
1.        Pada bagian sebelah kiri buku cek sebagai bukti arsip pihak yang mengeluarkan dan menandatangani cek tersebut.
2.        Bagian sebelah kanan dapat diberikan kepada pihak yang menerima pembayaran cek tersebut.








d.      Kwitansi dan lainnya
Kwitansi adalah bukti yang digunakan saat transaksi penerimaan sejumlah uang. Kwitansi dibuat dan ditandatangani oleh pihak penerima uang dan diserahkan kepada yang melakukan pembayaran.


4.      Aturan debet kredit
Pada dasarnya, pendebetan pada akuntansi adalah terjadi disebelah kiri dan pengkreditan teradi disebelah kanan. Hal ini dapat ditampilkan seperti gambar dibawah ini:
Sumber : ekonomi kelas XII K13 Anik Dkk : hal 76

Aturan debet dan kredit adalah aturan yang mengatur mekanisme pencatatan menggunakan akun  yang dapat dikelompokan atas beberapa kelompok akun yang terdiri atas: harta/asset, hutang, modal, pendapatan dan beban. Kumpulan dari akun tersebut dinamakan buku besar.
Adapun yang perlu kita ingat dalam mengidentifikasikan transaksi adalah  dimana dengan adanya aturan mendebet dan mengkredit, penambahan dan pengurangan yang teradi dalam akun yang bersangkutan dinyatakan dengan mendebet dan mengkredit akun- akun tersebut. Yang mana dapat ditampilkan dalam bentuk tebel sebagai berikut:
Jadi, berdasarkan analisis pengaruh transaksi keuangan ke dalam suatu rekening atau perkiraan, maka dengan pertolongan bentuk rekening huruf T yang sederhana, cara mendebit atau mengkredit adalah sebagai berikut.


CONTOH SOAL
1 Januari 2018.  Tuan Hadi membuka suatu perusahaan dengan nama Salon Langganan kita. Untuk itu tuan hadi menyetor uang pribadinya sebesar Rp. 500.000.000 kerekening perusahaan. Dari segi pencatatan akun, transaksi ini mengakibatkan harta berupakas untuk perusahaan bertambah Rp. 500.000.000 dan pihak lain ekuitas pemilik dengan modal tuan hadi bertambah Rp. 500.000.000 maka akun yang dicatat adalah akun kas di debit Rp 500.000.000 dan akun ekuitas pemilik dengan nama modal tuan hadi dicatat disebelah kredit. Dengan pencatatan sebagai berikut.

KAS
1/1 500.000.000


Modal Tn.Hadi

1/1 Rp.500.000.000


2 Januari 2018. Tuan hadi membeli peralatan salon sebesar Rp.200.000.000. pencatatan pada akun T adalah dengan mendebit peralatan salon dan mengkredit akun kas sejumlah Rp. 200.000.000. dengan pencatatan sebagai berikut.

KAS
1/1 Rp.500.000.000
2/1 Rp.200.000.000

PERALATAN SALON
2/1 Rp.200.000.000



5  januari 2018. Tuan hadi membayar gaji pegawai salonnya sebesar Rp. 20.000.000 per kas. Maka transaksi ini dicatat dengan mendebit akun beban gaji  sebesar Rp.20.000.000 dan mengkredit akun kas sebesar Rp.20.000.000. dengan pencatatan pada akun T sebagai berikut.

KAS
1/1 Rp.500.000.000
2/1 Rp.200.000.000
5/1 Rp.  20.000.000

Beban Gaji
5/1 Rp.  20.000.000



10 januari 2018. diterima perkas Pendapatan Jasa Salon Rp.60.000.000, maka pencatatan pada akun adalah sebagai berikut. Akun kas didebit RP. 60.000.000 dan akun pendapatan jasa dikredit sebesar Rp.60.000.000.

KAS
1/1 Rp.500.000.000
10/1 Rp.60.000.000
2/1 Rp.200.000.000
5/1 Rp.  20.000.000


Pendapatan Jasa

10/1 Rp.60.000.000

15 januari 2018 diibeli secara kreit peralatan salon sebharga 100.000.000 dari tokoh sempurna. Pencatatan pada akun t adalah dengan mendebit peralatan salon sebesar 100.000.000 dan mengkredit kewajiban untuk akun utang usaha sebesar 100.000.000. dengan pencatatn sebagai berikut.

PERALATAN SALON
2/1 Rp.200.000.000
15/1 Rp.100.000.00


Utang usaha

15/1 Rp.100.000.000


20 januari 2018 di bayar dengan tunai pada toko sempurna Rp.90.000.000. Maka kita harus mencatat transaksi ini pada T akun dimana mendebit akun utang usaha sebesar 90.000.000 dan mengkredit akun kas dengan jumlah utang sebesar 90.000.000 . dengan pencatatn seabagai berikut.

KAS
1/1   Rp.500.000.000
10/1 Rp.60.000.000
2/1   Rp.200.000.000
5/1   Rp.  20.000.000
20/1 Rp.  90.000.000





Utang usaha
20/1 Rp. 90.000.000
15/1 Rp.100.000.000

5.      PENGGOLONGAN AKUN






















Dalam kegiatan dunia usaha, setiap hari transaksi terjadi sangat kompleks baik dalam jenis maupun jumlahnya. Kita tahu bahwa semakin besar suatu perusahaan dengan bidang usahanya, semakin banyak dan beragam pula transaksi yang terjadi.
Agar memudahkan pencatatan, setiap transaksi keuangan dibukukan menurut jenis masing-masing. Misalnya, setiap penerimaan dan pengeluaran uang dibukukan dalam suatu lembaran yang disebut akun (perkiraan) dengan nama akun kas.
Akun (account) atau perkiraan adalah suatu formulir yang digunakan sebagai tempat mencatat transaksi keuangan yang sejenis dan dapat mengubah komposisi harta, kewajiban, dan modal perusahaan. Secara umum, akun dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu
·         akun riil (tetap) adalah akun yang dilaporkan dalam neraca, saldo akun terbawa dari satu periode ke periode berikutnya. Akun riil terdiri dari tiga kelompok, yaitu harta, kewajiban, dan modal;
·         akun nominal (sementara) adalah akun yang disajikan dalam laporan laba rugi, akun nominal terdiri dari dua kelompok, yaitu pendapatan dan beban. Penggolongan akun secara lebih rinci adalah sebagai berikut.

a.      Akun Harta (Assets)
Penggolongan Akun (Akun Harta, Akun Kewajiban, Akun Modal, Akun Pendapatan, Akun Beban) dan Pengertian Harta Lancar, Harta Tetap, Utang Lancar, Harta Tak Berwujud, Hak Paten, Hak Cipta, Kas, Efek, Wesel  Tagih, Piutang, Goodwill, Pendapatan Usaha dan Beban Usaha.
Harta (aktiva) adalah sumber ekonomis yang juga meliputi biaya-biaya yang terjadi akibat transaksi sebelumnya dan mempunyai manfaat pada masa yang akan datang.
Harta merupakan jumlah kekayaan yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan usahanya. Harta dapat dikelompokkan atas kelancaran (likuiditas), yaitu harta lancar, investasi jangka panjang, harta tetap, harta tidak berwujud, dan harta-harta lainnya.
Harta lancar, adalah harta yang berupa uang kas/bank dan harta yang sangat mudah dijadikan uang, atau umur pemakaiannya kurang dari satu tahun.
Yang termasuk harta lancar adalah sebagai berikut.
1.      Kas
Kas adalah uang tunai yang siap digunakan dan bebas digunakan setiap saat baik yang ada dalam perusahaan maupun saldo rekening giro perusahaan yang terdapat pada bank.
2.      Surat-surat berharga (efek)
Efek adalah surat-surat yang dimiliki perusahaan untuk diperjualbelikan. Gunanya untuk memanfaatkan dana kas/bank yang dipakai.
3.      Wesel tagih adalah piutang yang diperkuat dengan promes.
4.      Piutang adalah tagihan pada pihak lain baik perorangan maupun badan usaha.
5.      Persedian barang dagang adalah persediaan barang yang tersedia untuk dijual (dalam perusahaan dagang), persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi (dalam perusahaan manufaktur).
6.      Perlengkapan adalah barang-barang yang digunakan untuk kegiatan perusahaan dan diperkirakan habis dipakai dalam setahun. Misalnya, perlengkapan kantor atau perlengkapan toko (biasanya juga disebut bahan habis pakai).
7.      Beban dibayar di muka, berarti biaya yang telah dibayar, tetapi manfaat dari pembayaran belum diperoleh atau digunakan, seperti asuransi dibayar di muka, sewa dibayar di muka, dan iklan dibayar di muka.
Investasi bertujuan memperoleh keuntungan pada masa yang akan datang, atau dengan tujuan untuk menguasai perusahaan lainnya. Investasi umumnya dalam bentuk saham dan obligasi.
a.       Penyertaan (investasi) adalah investasi jangka panjang dalam bentuk saham, obligasi, atau surat berharga lainnya.
b.      Harta tetap adalah harta berwujud yang digunakan untuk operasi perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, seperti tanah, bangunan, mesin-mesin, dan peralatan.
c.       Harta tak berwujud adalah harta yang tidak mempunyai wujud fisik, tetapi merupakan hak-hak istimewa yang menguntungkan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Contoh harta tak berwujud, antara lain:
·         hak paten, yaitu hak istimewa atas suatu barang yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan;
·         hak cipta, yaitu hak karena menciptakan sesuatu yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan, misalnya hak cipta lagu;
·         goodwill, yaitu nama baik perusahaan yang melekat pada perusahaan itu sendiri. Dengan adanya goodwill, barang yang diproduksi mendapat kepercayaan dan dibeli oleh masyarakat.

b.      Akun Kewajiban (Liabilities)
Kewajiban adalah pengorbanan ekonomis yang harus dilakukan oleh perusahaan pada masa yang akan datang sebagai akibat kegiatan usaha.
Kewajiban ini dibedakan atas utang lancar dan utang jangka panjang.
a.       Utang lancar adalah kewajiban yang harus dilunasi dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Utang lancar meliputi:
1.      wesel bayar, yaitu utang yang disertai promes;
2.      utang usaha atau utang dagang, yaitu kewajiban yang timbul karena pembelian jasa atau barang secara kredit;
3.      biaya yang masih harus dibayar, yaitu beban yang sudah terjadi tetapi belum dibayar, misalnya utang sewa, utang gaji, dan utang bunga;
4.      pendapatan diterima di muka, yaitu kewajiban yang disebabkan perusahaan menerima lebih dahulu uang, sedangkan penyerahan jasa atau barang belum dilakukan
b.      Utang jangka panjang adalah kewajiban yang jangka waktu pelunasannya lebih dari satu tahun. Utang ini timbul karena pelunasan perusahaan untuk membeli peralatan-peralatan baru atau mesinmesain baru. Yang termasuk utang jangka panjang antara lain:
1.      utang bank, yaitu pinjaman modal kerja dari bank untuk perluasan usaha;
2.      utang hipotek, yaitu pinjaman dari bank dengan jaminan aktiva tetap;
3.      utang obligasi, yaitu utang yang disebabkan perusahaan menerbitkan dan menjual surat-surat berharga.
c.       Utang lain-lain adalah utang yang tidak termasuk utang lancar ataupun utang jangka panjang. Misalnya, utang kepada direksi dan kepada pemegang saham.\

c.       Akun Modal (Equility)
Modal adalah selisih antara harta dan kewajiban, dan merupakan hak pemilik perusahaan atas sebagian harta perusahaan. Akuntansi modal pada perusahaan perseorangan disertai nama pemilik, sedangkan akuntansi modal pada persekutuan disertai dengan nama sekutu. Pada perusahaan Perseroan Terbatas, akuntansi modal disebut dengan modal saham.

d.      Akun Pendapatan
Pendapatan adalah hasil atau penghasilan yang diperoleh perusahaan.
Pendapatan dibedakan atas:
1.      pendapatan usaha, yaitu pendapatan yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha;
2.      pendapatan di luar usaha, yaitu pendapatan yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha, misalnya sebuah perusahaan dagang menyewakan sebagian ruang yang tidak dipakai untuk kegiatan usaha pihak lain.
e.       Akun Beban
Beban adalah pengorbanan yang terjadi selama melaksanakan kegiatanusaha untuk memperoleh pendapatan.
Beban dapat dibedakan atas:
1.      beban usaha, yaitu pengorbanan yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha
2.      beban lain-lain, yaitu pengorbanan yang tidak langsung berhubungan dengan kegiatan pokok usaha, misalnya beban bunga yang dibayar oleh perusahaan pada saat tertentu atas pinjaman yang diperoleh dari bank.

6.      JURNAL UMUM
Setelah diketahui macam-macam bukti transaksi dan cara analisisnya (cara mendebit dan mengkredit rekening) maka langkah berikutnya melakukan pencatatan awal yaitu menyusun jurnal. Jurnal adalah pencatatan tentang pendebitan dan pengkreditan (transaksi perusahaan) secara kronologis dari transaksi keuangan beserta penjelasan yang diperlukan. pencatatatan bertujuan mengurangi kesalahan dan menutupi kelamehan pencatatan bukti transaksi yang dilakukan secara langsung kebuku besar.
Istilah jurnal berarti catatan harian, sehingga dalam perkembangannya jurnal dapat digunakan dalam aktvitas ekonomi maupun aktivitas lainnya.
A.    FUNGSI JURNAL
Adapun fungsi jurnal di antaranya sebagai berikut.
a)      Fungsi mencatat, artinya jurnal digunakan untuk mencatat setiap terjadi transaksi keuangan, baik yang bersifat transaksi internal maupun transaksi eksternal.
b)      Fungsi historis, artinya jurnal digunakan untuk mencatat transaksi keuangan sesuai dengan urutan kejadian (kronologis) atau secara urut menurut tanggal terjadinya transaksi.
c)      Fungsi analisis, artinya jurnal merupakan hasil analisis dari petugas akuntansi, baik yang akan dicatat ke sebelah debit maupun yang akan dicatat ke sebelah kredit.
d)     Fungsi instruktif, artinya jurnal bersifat memerintah untuk melakukan pencatatan akuntansi berikutnya atau posting ke buku besar
e)      Fungsi informatif, artinya jurnal dapat memberikan keterangan secara jelas, di mana dalam jurnal terdapat keterangan atas pencatatan suatu transaksi.
B.     BENTUK JURNAL
Secara umum bentuk jurnal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
jurnal khusus dan jurnal umum.
a.       Jurnal Khusus
Jurnal khusus merupakan sebuah jurnal yang melakukan pencatatan transaksi sejenis yang terjadi berulang kali sehingga harus disediakan kolom-kolom khusus untuk melakukan pencatatannya.
b.      Jurnal Umum
Jurnal umum adalah jurnal yang mencatat semua jenis transaksi, kecuali yang sudah tercatat dalam jurnal khusus. Untuk perusahaan yang jenis transaksinya masih sedikit, cukup menggunakan jurnal umum dengan dua kolom debit dan kredit.
Contoh SOAL:
Perusahaan ADHI JAYA, Medan didirikan pada tanggal 1 Desember 2005 oleh Tuan Sabil. Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 2005 adalah sebagai berikut.
Desember 1 Tuan Sabil memulai usahanya dengan membuka rekening di bank atas nama perusahaan dan menyetor kas sebesar Rp150.000.000,00.
Desember 2 Dibayar sewa gedung untuk 1 tahun sebesar Rp3.000.000,00 mulai bulan Desember 2005 sampai dengan November 2006.
Desember 3 Dibeli peralatan kantor dari Toko PADANG seharga Rp20.000.000,00 secara kredit.
Desember 5 Dibayar iklan untuk bulan Desember 2005 sebesar Rp600.000,00.
Desember 11 Dibeli perlengkapan kantor secara kredit seharga Rp1.200.000,00 dari Toko Takengon.
Desember 15 Diselesaikan servis untuk PT NUSAMBA dan difakturkan untuk ditagih sebesar Rp9.000.000,00.
Desember 16 Diterima uang sebesar Rp5.000.000,00 atas jasa yang telah diberikan kepada pelanggan.
Desember 17 Dibayar sebagian utang kepada Toko PADANG sebesar Rp7.500.000,00 untuk peralatan kantor yang dibeli tanggal 3 Desember 2005 lalu.
Desember 19 Diterima uang sebesar Rp4.500.000,00 atas jasa yang telah diberikan kepada pelanggan bernama Toko RAMAI.
Desember 22 Diterima cicilan pembayaran dari PT NUSAMBA sebesar Rp3.000.000,00.
Desember 24 Dibayar biaya perjalanan dinas sebesar
Rp900.000,00.
Desember 25 Dibayar biaya telepon untuk bulan Desember 2005 sebesar Rp400.000,00.
Desember 25 Dibayar gaji pegawai bulan Desember sebesar Rp9.000.000,00.
Desember 27 Dibayar listrik dan air untuk bulan Desember sebesar Rp600.000,00.
Desember 30 Tuan Sabil mengambil uang tunai untuk keperluan pribadinya sebesar Rp5.000.000,00
Desember 31 Diberikan servis kepada para pelanggan dengan perhitungan biaya sebesar Rp8.000.000,00. Jumlah tersebut difaktur untuk ditagih.
Diminta: Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi di atas!
Akun yang digunakan adalah: 101 Kas, 102 Piutang usaha, 103 Perlengkapan kantor, 104 Sewa dibayar di muka, 121 Peralatan kantor, 201 Utang usaha, 301 Modal Tuan Sabil, 302 Prive Tuan Sabil, 401 Pendapatan jasa, 501 Beban gaji, 502 Beban perjalanan dinas, 503 Beban iklan, 504 Beban telepon, 505 Beban listrik dan air. Pencatatan ke dalam jurnal tampak seperti berikut.











7.      BUKU BESAR UTAMA
Rekening dibedakan menjadi rekening riil (rekening harta, utang, dan modal) dan rekening nominal (rekening pendapatan dan beban). Kumpulan rekening yang
saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan disebut Buku Besar atau ledger. Buku besar menampung ringkasan data yang sudah dikelompokkan dalam jurnal.
Oleh karena buku besar merupakan catatan akuntansi terakhir, sehingga disebut book of final entry. Buku besar berfungsi sebagai tempat mencatat perubahan aktiva atau harta, kewajiban atau utang, modal, pendapatan, dan beban sebagai akibat adanya transaksi keuangan.
A.     BENTUK BUKU BESAR
Pada umumnya, bentuk buku besar yang digunakan terdiri atas
empat macam.
a.       Bentuk T Sederhana. Bentuk buku besar ini merupakan bentuk yang paling
sederhana, di mana sebelah kiri menyatakan sisi debit dan
sisi kanan menyatakan sisi kredit.




b.      Bentuk Skontro atau Dua Kolom. Bentuk skontro berarti sebelah-menyebelah, yaitu sebelah debit dan sebelah kredit. Bentuk ini mempunyai kolom keterangan yang terletak di sebelah debit dan kredit.




c.       Bentuk Saldo Tunggal atau Tiga Kolom. Bentuk ini digunakan apabila memerlukan penjelasan yang banyak, baik untuk transaksi debit maupun kredit. Dengan menggunakan bentuk saldo tunggal, kita dapat mengetahui informasi saldo setiap saat.
d.      Bentuk Saldo Rangkap atau Empat Kolom. Bentuk ini serupa dengan bentuk saldo tunggal, hanya saja kolom saldo pada bentuk saldo rangkap dibagi menjadi dua kolom yaitu kolom debit dan kolom kredit. Sementara untuk
saldo disesuaikan dengan sifat masing-masing akun.
B.     POSTING
Setelah pencatatan transaksi pertama dalam jurnal, langkah selanjutnya melakukan pencatatan akuntansi terakhir dengan jalan memindahkan kolom debit jurnal ke buku besar sebelah debit dan kolom kredit jurnal ke buku besar sebelah kredit.
Proses memindahkan catatan dari jurnal yang telah dibuat ke dalam buku besar disebut dengan posting. Proses pemindahan dari jurnal ke buku besar (posting)
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       Tanggal jurnal dipindahkan pada kolom tanggal buku besar.
b.      Hal. jurnal dipindahkan pada kolom ref buku besar dengan menuliskan JU. Misalnya JU.1 berarti posting buku besar berasal dari jurnal umum halaman satu.
c.       Jumlah pada jurnal dipindahkan ke buku besar sesuai dengan rekening yang bersangkutan. Jumlah debit jurnal ditempatkan pada debit buku besar dan jumlah kredit jurnal ditempatkan pada kredit buku besar
d.      Kolom ref jurnal diisi dengan nomor kode rekening buku
besar yang digunakan.
Langkah-langkah posting (buku besar bentuk huruf T) secara
nyata tampak pada ilustrasi berikut ini.
Apabila jurnal di atas dibukukan ke perkiraan buku besar
bentuk saldo rangkap (posting), maka buku besar perusahaan
ADHI JAYA Medan, akan tampak seperti berikut.



8.      NERACA SISA
Daftar sisa atau neraca saldo adalah laporan tentang saldosaldo semua perkiraan yang terdapat pada buku besar. Jumlah angka yang terdapat dalam neraca sisa merupakan saldo normal tiap perkiraan buku besar, yang di antaranya sebagai berikut.
·         Akun atau Rekening Aktiva/Harta bersaldo normal debit, tetapi untuk Rekening Akumulasi penyusutan aktiva tetap bersaldo normal kredit.
·         Akun atau Rekening Kewajiban/Utang bersaldo normal kredit.
·         Akun atau Rekening Ekuitas/Modal bersaldo normal kredit, tetapi untuk Rekening Prive bersaldo normal debit.
·         Akun atau Rekening Pendapatan bersaldo normal kredit.
·         Akun atau Rekening Beban bersaldo normal debit.




Contoh:
Berdasarkan hasil posting Perusahaan ADHI JAYA Medan bulan Desember 2005 dapat disusun neraca saldo seperti berikut.
9.      JURNAL PENYESUAIAN
Penyusunan neraca saldo biasanya dilakukan setiap akhir bulan, yang merupakan ringkasan dari perkiraan buku besar. Tetapi data yang terdapat dalam neraca saldo tidak langsung dapat disusun laporan keuangan, karena masih ada data yang memerlukan penyesuaian terlebih dahulu. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyusunan jurnal penyesuaian untuk melakukan penyesuaian pembukuan.
Jurnal penyesuaian (adjustment journal) adalah penyesuaian tentang catatan atau fakta yang sebenarnya pada akhir periode. Jurnal penyesuaian disusun berdasarkan data dari neraca saldo dan data penyesuaian akhir periode. Tujuan dari penyusunan jurnal penyesuaian antara lain sebagai berikut.
1)      Agar setiap perkiraan riil, khususnya perkiraan harta dan utang pada akhir periode menunjukkan jumlah sebenarnya.
2)      Agar setiap perkiraan nominal, yaitu perkiraan pendapatan dan beban pada akhir periode menunjukkan besarnya pendapatan dan beban yang harus diakui.
Pada dasarnya pencatatan jurnal penyesuaian bersumber dari neraca saldo serta keterangan-keterangan pada akhir periode. Saldo-saldo di dalam neraca saldo yang memerlukan jurnal penyesuaian antara lain dapat diuraikan sebagai berikut.
1.         Pemakaian Perlengkapan
Pemakaian perlengkapan yaitu bagian dari harga beli perlengkapan yang telah dikonsumsi atau dipakai selama periode akuntansi. Jumlah yang disesuaikan sebesar jumlah yang terpakai. Jurnal penyesuaiannya adalah:
2.        Piutang Pendapatan
Piutang pendapatan atau pendapatan yang masih harus diterima artinya pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum dicatat atau belum diterima. Jumlah yang disesuaikan sebesar jumlah yang sudah menjadi pendapatan yang belum diterima.
3.         Utang Beban atau Beban yang Masih Harus Dibayar
Utang beban artinya beban yang sudah menjadi kewajiban perusahaan tetapi belum dicatat atau belum dibayar. Jumlah yang disesuaikan sebesar jumlah yang sudah menjadi beban yang belum dibayar.
Jurnal penyesuaiannya adalah:
4.         Utang Pendapatan atau Pendapatan Diterima di Muka
Utang pendapatan artinya pendapatan yang sudah diterima, tetapi sebenarnya pendapatan tersebut merupakan pendapatan di masa yang akan datang. Berikut ini metode penyusunan jurnal penyesuaiannya.
a)      Pendapatan diterima di muka yang dicatat sebagai kewajiban atau utang. Jumlah yang disesuaikan sebesar jumlah yang sudah terlampaui atau sudah kadaluarsa. Jurnal penyesuaiannya adalah:
b)     Pendapatan diterima di muka yang dicatat sebagai pendapatan. Jumlah yang disesuaikan sebesar jumlah yang terlampaui atau belum kadaluarsa.
Jurnal penyesuaiannya adalah:

5.        Persekot Biaya atau Beban Dibayar di Muka
Beban dibayar di muka artinya beban yang sudah dibayar, tetapi beban tersebut merupakan beban untuk masa yang akan datang.
Penyusunan jurnal penyesuaian untuk beban dibayar di muka dapat dilakukan melalui dua metode.
a)      Beban dibayar di muka yang dicatat sebagai harta atau aktiva. jumlah yang disesuaikan sebesar jumlah yang sudah terlampaui atau sudah kadaluarsa/sudah menjadi beban.
b)     Beban dibayar di muka yang dicatat sebagai beban. Jumlah yang disesuaikan sebesar jumlah yang belum terlampaui atau belum kadaluarsa/belum menjadi beban. Jurnal penyesuaiannya adalah:
6.        Kerugian Piutang
Kerugian piutang artinya taksiran kerugian yang timbul karena
adanya seluruh atau sebagian dari jumlah piutang yang mungkin tidak dapat ditagih.
Jurnal penyesuaiannya adalah:



7.         Penyusutan (Depresiasi)
Penyusutan artinya penyusutan aktiva tetap yang harus dibebankan pada setiap akhir periode atau akhir tahun. Jurnal penyesuaiannya adalah:
Contoh Soal:
Data di bawah ini diambil dari pembukuan PT FATAH per 31
Desember 2005.
a.       Perkiraan perlengkapan kantor menunjukkan saldo Rp750.000,00 pada akhir tahun 2005. Dari jumlah tersebut telah terpakai sebesar Rp500.000,00.
b.      Bunga yang masih harus diterima atas wesel tagih sebesar Rp100.000,00.
c.       Rekening listrik dan air bulan Desember 2005 yang belum dibayar sebesar Rp75.000,00.
d.      Sewa diterima di muka dalam neraca saldo menunjukkan kredit sebesar Rp1.200.000,00. Sewa tersebut adalah untuk masa 1 Mei 2005 sampai dengan 1 Mei 2006.
e.       Asuransi dibayar di muka sebelum Jurnal penyesuaian sebesar Rp900.000,00. Pada akhir tahun 2006 ternyata yang telah menjadi beban sebesar Rp600.000,00.
f.       Piutang dagang dalam neraca saldo per 31 Desember 2005 menunjukkan jumlah sebesar Rp10.000.000,00. Ditaksir mungkin yang tidak tertagih sebesar Rp100.000,00
g.       Gedung dengan harga perolehan sebesar Rp50.000.000,00 disusutkan setiap tahun sebesar 5% dari harga perolehan.
Diminta:
Susunlah jurnal penyesuaian dalam bentuk jurnal umum!


10.  KERTAS KERJA
Neraca lajur atau kertas kerja adalah suatu kertas berkolom-kolom atau berlajur-lajur yang direncanakan secara khusus untuk menghimpun semua data akuntansi yang
dibutuhkan pada saat perusahaan akan menyusun laporan
keuangan secara sistematis.
Tujuan penyusunan neraca lajur di antaranya sebagai berikut.
1)      Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan.
2)      Untuk menggolongkan dan meringkas informasi dari neraca saldo dan data penyesuaian, sehingga merupakan persiapan sebelum disusun laporan keuangan yang formal.
3)      Untuk mempermudah menemukan kesalahan yang mungkin dilakukan dalam membuat jurnal penyesuaian.
Dalam kertas kerja terdiri atas kolom-kolom sebagai berikut.
·         Neraca Saldo, data kolom ini diambil dari neraca saldo yang telah dibuat. Selain itu, dapat juga diambilkan dari saldo-saldo setiap buku besar rekening yang telah dibuat.
Pada neraca saldo ini jumlah kolom debit harus sama
dengan kolom kredit.
·         Jurnal Penyesuaian, data kolom ini diambil dari ayatayat jurnal penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya. Rekening-rekening baru yang timbul dari jurnal
penyesuaian juga dimasukkan ke dalam kertas kerja.
Jumlah kolom debit harus sama dengan kolom kredit.
·         Neraca Saldo Disesuaikan, data dalam kolom ini merupakan jumlah dari neraca saldo setelah adanya ayatayat penyesuaian. Rekening-rekening tersebut dapat bertambah jumlah nominalnya ataupun berkurang jumlah nominalnya sesuai dengan penyesuaian. Jumlah kolom debit harus sama dengan kolom kredit. Dari neraca saldo disesuaikan ini selanjutnya dipilih rekening yang masuk ke kolom rugi-laba, yaitu rekening beban masuk kolom debit dan pendapatan masuk kolom kredit. Demikian pula untuk harta, akumulasi depresiasi aktiva tetap, utang, dan modal dimasukkan pada kolom neraca.
·         Perhitungan Laba Rugi, data dalam kolom ini merupakan rekening-rekening nominal, yaitu pendapatan dan beban yang diambil dari neraca saldo disesuaikan. Pada kolom ini jika jumlah kredit lebih besar daripada jumlah debitnya
maka perusahaan tersebut laba, selisih laba tersebut
dimasukkan dalam kolom sisi debit. Namun sebaliknya, jika kolom debit jumlahnya lebih besar daripada kolom kredit, perusahaan tersebut rugi. Selisih rugi tersebut dimasukkan dalam kolom sisi kredit sehingga jumlah kolom debit harus sama dengan kolom kredit.
·         Neraca, data dalam kolom ini merupakan rekeningrekening riil, yaitu harta, kewajiban dan modal yang diambil dari neraca saldo disesuaikan. Selisih dalam kolom ini jumlahnya harus sama dengan selisih pada kolom perhitungan laba rugi. Jika laba maka dimasukkan kolom neraca sisi kredit dan jika rugi masuk sisi debit
sehingga jumlah kolom debit harus sama dengan kolom
kredit.

B. BENTUK KERTAS KERA
1.      BENTUK KERTAS KERJA ENAM KOLOM
2.      BENTUK KERTAS KERJA DELAPAN KOLOM
3.      BENTUK KERTAS KERJA SEPULUH KOLOM


4.      BENTUK KERTAS KERJA DUA BELAS KOLOM
C.     LANGKAH LANGKAH PEMBUATAN KERTAS KERJA
Adapun prosedur penyusunan neraca lajur adalah sebagai berikut.
1.      Memasukkan saldo-saldo yang terdapat dalam rekening buku besar ke dalam kolom Neraca Saldo (NS) pada formulir neraca lajur, di mana jumlah debit dengan jumlah kredit harus sama.
2.      Membuat jurnal penyesuaian dengan menganalisis data dan memasukkan ke dalam neraca lajur kolom Ayat Penyesuaian (AP).
3.      Menjumlahkan atau mencari selisih antara kolom Neraca Saldo dengan kolom Ayat Penyesuaian, dan mengisi kolom Neraca Saldo setelah Disesuaikan (NSD).
4.      Memindahkan jumlah-jumlah di dalam kolom Neraca Saldo setelah Disesuaikan ke dalam kolom Laba/Rugi dan kolom Neraca.
a.       Untuk rekening riil atau neraca yakni rekening Harta, Utang, dan Modal, harus dipindahkan ke dalam neraca lajur kolom Neraca.
b.      Untuk rekening nominal atau laba rugi yakni rekening Pendapatan dan Beban, harus dipindahkan ke dalam neraca lajur kolom Laba/rugi.
c.       Menjumlahkan kolom laba rugi dan neraca. Seandainya kolom laba rugi lebih besar sebelah kredit, berarti laba, maka jumlah laba dipindahkan ke kolom neraca sebelah kredit. Sebaliknya, jika jumlah dalam kolom laba rugi lebih besar sebelah debit berarti rugi, maka jumlah rugi dipindahkan ke kolom neraca sebelah debit.
Data penyesuaian per 31 Desember 2005 sebagai berikut.
a)      Persediaan perlengkapan kantor yang masih ada akhir tahun 2005 sebesar Rp 800.000,00
b)      Sewa tersebut dibayar tanggal 2 Desember 2005 untuk jangka waktu 1 tahun mulai dari Desember 2005 sampai dengan November 2006.
c)      Penyusutan atas peralatan kantor tahun 2005 sebesar Rp500.000,00.
d)      Gaji yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000.000,00.
e)      Pendapatan jasa yang masih harus diterima sebesar Rp1.000.000,00.

Akun yang masih harus dibuka adalah:
506 Beban perlengkapan kantor
507 Beban sewa
508 Beban penyusutan peralatan kantor
122 Akumulasi penyusutan peralatan kantor
202 Utang gaji
Diminta:
Susunlah ayat penyesuaian dalam jurnal umum dan neraca lajur
10 kolom!






Jawab:
a.       Ayat penyesuaian dalam jurnal umum dari Perusahaan ADHI JAYA, Medan akan tampak seperti berikut.






















b.      Kertas kerja atau neraca lajur Dari semua data akuntansi Perusahaan ADHI JAYA, Medan dapat disusun neraca lajur sebagai berikut.



Comments

Popular posts from this blog

supervision of school management

1 CHAPTER I PRELIMINARY A. Background Education is a very strategic tool within preserving the value system that evolves in life.   Process education not only provides participants with knowledge and understanding educate, but more directed to the formation of attitudes, behaviors and the personality of learners, given the development of communication, information and the presence of print and electronic media does not always bring positive influence for learners. The educator's job in this context helps to condition the pesera educate on the attitude, behavior or the right personality, in order to be able to become agents of modernization  for himself, the environment, society and anyone encountered without having to distinguish the tribe, religion, race and class.   Education is directed towards humanizing human beings, or help the process of   hominization  and humanization, its intent and implementation the educational p...

makalah evaluasi pembelajaran

BAB 1 PENDAHULUAN A.     Latar belakang Evaluasi atau penilaian sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan social lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya sudah wajar atau belum. Dalam pendidikan Islam evaluasi merupakan salah satu komponen dari system pendidikan islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Untuk itu seorang guru harus benar-benar mempersiapkan dengan benar evaluasi tersebut, Sebelum menyiapkan evaluasi belajar guru terlebih dahulu harus mengetahui apa esensi dari penilaian itu sendiri. Dalam makalah ini akan diulas beberapa poin yang tentunya berkaitan dengan penilaian, yang k...

learning style

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses perubahan baik prilaku, pengetahuan dan budaya. Hal ini terkait dengan bagaimana proses interaksi terjalin dengan efektif, saat guru koofratif dengan peserta didik yaitu tidak membeda-bedakan perlakuan. Disamping guru harus bersikap arif, bijaksana dan penuh kasih sayang sebagai landasan dalam mentranformasikan ilmu pengetahuan, sikap dan budaya, bahkan guru dituntut untuk senantiasa mengetahui karakteristik peserta didik di antaranya; Pertama Baground hight quality personality (latar belakang kualitas perseorangan). Latar belakang inilah yang kemudian peerta didik mempunyai gaya belajar masing-masiang misalnya; 40 jumlah peserta didik pasti memiliki gaya belajar yang berbeda-beda sesuai dengan bakat dan prilaku yang dibawanya. Kedua Sosial budaya yaitu peranan dan status seseorang tentunya memiliki status social yang heterogen pula seperti halnya; latar belakang keluarga yang termasuk golongan High Class (ti...