Skip to main content

makalah evaluasi pembelajaran

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Evaluasi atau penilaian sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan social lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya sudah wajar atau belum. Dalam pendidikan Islam evaluasi merupakan salah satu komponen dari system pendidikan islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pembelajaran.
Untuk itu seorang guru harus benar-benar mempersiapkan dengan benar evaluasi tersebut, Sebelum menyiapkan evaluasi belajar guru terlebih dahulu harus mengetahui apa esensi dari penilaian itu sendiri. Dalam makalah ini akan diulas beberapa poin yang tentunya berkaitan dengan penilaian, yang khususnya adalah penilaian berbasis kelas. Diantaranya adalah pengertian penilaian, bentuk-bentuk penilaian, syarat-syarat penilaian, dan lingkup penilaian.
Dalam dunia pendidikan di sekolah penilaian dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan mengumpulkan informasi untuk menentukan keberhasilan peserta didik. Kegiatan pengumpulan informasi ini bertujuan untuk kualitas dan kuantitas belajar peserta didik. Melalui penilaian ini seorang guru dapat menentukan apakah peserta didik mengalami kemajuan dalam belajar atau mampu menguasai kompetensi yang diharapkan. Penilaian juga diharapkan member manfaat bagi peserta didik utamanya agarpeserta didik dapat mengetahui kemajuan belajarnya, lebih termotivasi untuk belajar dan lebh bertanggung jawab atas keberhasilan belajarnya.








B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian penilaian berbasis kelas?
2.      Apa tujuan dan fungsi penilaian berbasis kelas?
3.      Objek Penilaian Berbasis Kelas?
4.      Domain dan Alat Penilaian Berbasis Kelas?
5.      Apa manfaat penilaian berbasis kelas?
6.      Apa prinsip – prinsip penilaian berbasis kelas?
7.      Jenis-Jenis Penilaian Berbasis Kelas?
8.      Strategi Penilaian Berbasis Kelas?

C.     Tujuan
Makalah ini membahas.
1.      Untuk mengetahui pengertian penilaian berbasis kelas
2.      Untuk mengetahui tujuan dan fungsi penilaian berbasis kelas
3.      Untuk mengetahui tentang objek penilaian berbasis kelas
4.      Untuk mengetahui tentang domain dan alat penilaian berbasis kelas
5.      Untuk mengetahui tentang manfaat penilaian berbasis kelas
6.      Untuk mengetahui tentang prinsip-prinsip dari penilaian berbasi kelas
7.      Untuk mengetahui tentang beberapa jenis-jenis penilaian berbasis kelas
8.      Untuk mengetahui tentang strategi dari penilaian berbasis kelas













BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian berbasis kelas adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. Penilaian berbasis kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan ). Penilaian Berbasis Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tentang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan kemajuan siswa. maksudnya adalah hasil Penilaian Berbasis Kelas dapat menggambarkan kompetensi, keterampilan dan kemajuan siswa selama di kelas.
Depdiknas (2002), menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. PBK itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian prestasi siswa.
 Dalam implementasi penilaian berbasis kelas, terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
1.      Penilaian prestasi belajar (achievment assesment), yaitu suatu teknik penilaian yang digunakan untuk mengetahui tingkat pencapaian prestasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
2.      Penilaian kinerja (performance assesment), yaitu suatu penilaian yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan keterampilan peserta didik melalui tes penampilan kerja nyata.
3.       Penilaian alternatif (alternative assesment), yaitu suatu teknik penilaian yang digunakan sebagai alternatif di samping teknik penilaian yang lain.
4.       Penilaian autentik (authentic assesment), yaitu suatu teknik penilaian yang digunakan untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berupa kemampuan nyata, bukan sesuatu yang dibuat-buat.
5.      Penilaian portofolio (portfolio assesment), yaitu suatu teknik penilaian yang digunakan untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi dan perkembangan peserta didik berdasarkan kumpulan hasil kerja dari waktu ke waktu.

B.     Tujuan dan Fungsi Penilaian Berbasis Kelas
Secara umum semua jenis penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik di sekolah, mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat, dan untuk mengetahui ketercapaian pendidikan secara umum. Penilaian berbasis kelas bertujuan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosis kesulitan belajar, memberikan umpan balik/ perbaikan proses pembelajaran, penentuan kenaikan kelas; dan memotivasi belajar peserta didik dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan.
Tujuan dari penilaian adalah untuk mengukur seberapa jauh tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, dikembangkan dan ditanamkan di sekolah serta dapat dihayati, diamalkan/diterapkan, dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu penilaian juga bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang digunakan sebagai feedback/umpan balik bagi guru dalam merencanakan proses pembelajaran selanjutnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan, memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran yang dilaksanakan (Sudjana, 2002: 2). Penilaian ini harus dilakukan secara jujur, dan transparan agar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya.
Fungsi penilaian berbasis kelas bagi peserta didik dan guru adalah untuk:
1.      Membantu peserta didik dalam mewujudkan dirinya dengan mengubah atau  mengembangkan perilakunya ke arah yang lebih baik.
2.      Membantu peserta didik mendapat kepuasan atas apa yang dikerjakannya
3.      Membantu guru menetapkan apakah strategi, metode, dan media mengajar yang digunakan telah memadai.
4.      Membantu guru dalam membuat pertimbangan dan keputusan administrasi

Ø  Intinya tujuan dari penilaian adalah :
1)      Menilai kemampuan individual melalui tagihan dan tugas tertentu
2)       Menentukan kebutuhan pembelajaran
3)      Membantu dan mendorong peserta didik
4)       Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik
5)      Menentukan strategi pembelajaran
6)      Akuntabilitas lembaga
7)      Meningkatkan kualitas pendidikan
C.     Objek Penilaian Berbasis Kelas
Sesuai dengan petunjuk pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, maka objek penilaian berbasis kelas adalah sebagai berikut:
1)      Penilaian kompetensi dasar mata pelajaran, yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah peserta didik menyelesaikan suatu aspek mata pelajaran tertentu.
2)      Penilaian kompetensi rumpun pelajaran, yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak yang seharusnya dicapai oleh peserta didik setelah menyelesaikan rumpun pelajaran.
3)      Penilaian kompetensi lintas kurikulum, yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak yang mencakup kecakapan belajar sepanjang hayat dan kecakapan hidup yang harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar secara berkesinambungan.
4)      Penilaian kompetensi tamatan, yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah peserta didik menyelesaikan jenjang tertentu.
5)       Penilaian terhadap pencapaian keterampilan hidup. Kecakapan hidup yang dimiliki peserta didik melalui berbagai pengalaman belajar perlu dinilai sejauh mana kesesuaiannya dengan kebutuhan mereka untuk dapat bertahan dan berkembang dalam kehidupannya di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jenis-jenis kecakapan hidup yang perlu dinilai, antara lain keterampilan diri, keterampilan berfikir rasional, keterampilan sosial, keterampilan akademik, keterampilan vokasional.


D.    Domain dan Alat Penilaian Berbasis Kelas
1.      Domain Kognitif, meliputi hal-hal berikut:
1)      Tingkatan hafalan, mencakup kemampuan menghafal verbal atau menghafal paraphrase materi pelajaran berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.
2)      Tingkatan pemahaman, meliputi kemampuan membandingkan (menunjukkan persamaan dan perbedaan), mengidentifikasi karakteristik, menggeneralisasi, dan menyimpulkan.
3)       Tingkatan aplikasi, meliputi kemampuan menerapkan rumus, dalil, atau prinsip terhadap kasus-kasus nyata yang terjadi di lapangan.
4)      Tingkatan analisis, meliputi kemampuan mengklasifikasi, menggolongkan, memerinci, mengurai suatu objek
5)      Tingkatan sintesis, meliputi kemampuan memadukan berbagai unsure atau komponen, menyusun, membentuk bangunan, mengarang, melukis, menggambar, dan sebagainya.
6)      Tingakatan evaluasi/ penilaian mencakup kemampuan menilai terhadap objek studi dengan menggunakan kriteria tertentu.
Untuk mengukur penguasaan kognitif dapat digunakan tes lisan di kelas, tes tertulis, dan portofolio.
2.      Domain Psikomotor
a)      Tingakatan penguasaan gerakan awal berisis kemampuan peserta didik dalam menggerakkan sebagian anggota badan
b)      Tingkatan gerakan semi rutin, meliputi kemampuan melakuakn atau menirukan gerakan yang melibatkan seluruh anggota badan
c)      Tingkatan gerakan rutin, berisi kemampuan melakukan gerakan secara menyeluruh dengan sempurna dan sampai pada tingkatan otomatis. Alat penilaian yang digunakan untuk mengukur domain psikomotor adalah tes penampilan atau kinerja yang telah dikuasai oleh peserta didik, seperti tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes petik kerja.

3.      Domain Afektif
Berkenaan dengan ranah afektif ada dua hal yang harus dinilai. Pertama, kompetensi afektif yang ingin dicapai dalam pembelajaranb meliputi tingkatan pemberian respon, apresiasi, penilaian dan internalisasi. Kedua, sikap dan minat peserta didik terhadap mata pelajaran dan proses pembelajaran. Sikap peserta didik terhadap pelajaran bisa positif, bisa negative atau netral. Beberapa jenis skala sikap dapat digunakan, antara lain skala likert, skala Thurstone, skala perbedaan semantik, skala Bogardus, dan skala Chapin.

E.     Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas
Dalam melaksanakan penilaian berbasis kelas, guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang harus digunakan, terutama dalam rangka pencapaian kompetensi, sebagai berikut:
a.       Motivasi, artinya tujuan akhir penilaian berbasis kelas bukan terletak pada pencapaian angka yang tinggi, melainkan terletak pada cara bagaimana memotivasi peserta didik sehingga diperoleh hasil yang maksimum. Hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi siswa yang berhasil atau sebagai pemicu semangat belajar bagi yang kurang berhasil.
b.      Valid, artinya penilaian harus memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa, misalnya apabila pembelajaran menggunakan pendekatan eksperimen maka kegiatan melakukan eksperimen harus menjadi salah satu obyek yang dinilai. Oleh sebab itu penilaian tidak menyimpang dari kompeensi yang akan dicapai.
c.       Adil, artinya penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa, dan jender. Penilaian berbasis kelas menempatkan posisi siswa dalam kesejajaran, dengan demikian setiap siswa akan memperoleh perlakan yang sama.
d.      Terbuka, artinya kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak (siswa, guru, sekolah, orang tua, dan pihak lain yang terkait).
e.        Berkesinambungan, artinya penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya.
f.       Bermakna, artinya penilaian hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, berguna dan bisa ditindaklanjuti oleh semua pihak, terutama guru, peserta didik, dan orangtua.
g.      Menyeluruh, artinya penilaian dapat dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur termasuk mengumpulkan berbagai bukti hasil belajar siswa. Penilaian terhadap hasil belajar siswa meliputi pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan nilai (afektif) yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
h.      Edukatif, artinya tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh gambaran kemampuan siswa dalam pencapaian kompetensi melalui angka yang diperoleh akan tetapi hasil penilaian harus memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru maupun siswa, sehingga hasil belajar akan lebih optimal.

F.      Manfaat Hasil Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian berbasis kelas sangat bermanfaat bagi guru, orang tua, dan peserta didik.Bagi guru, penilaian berbasis kelas bermanfaat untuk mengetahuib kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiaknosis kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran, menentukan kenaikan kelas, dan memotifasi peserta didik untuk belajar lebih baik.
Bagi orang tua, penilaian berbasis kelas bermanfaat untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknya, peringkat anaknya dikelas, memberikan bimbingan, dan merangsang orang tua untuk menjalin komunikasi dengan pihak sekolah dalam rangka perbaikan hasil belajar anaknya. Bagi peserta didik, penilaian berbasis kelas bermanfaat untuk memantau hasil pencapaian kompetensi secara utuh, baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan lainnya.Pusat kurikulum Balitbang Depdiknas (2000) dalam dokumen “Kurikulum Berbasis kompetensi” mengemukakan hasil penilaian berbasis kelas berguna untuk:
1.      Umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kemampuan dan kekurangannya.
2.       Memantau kemajuan dan mendiaknosis kemampuan belajar peserta didik
3.      Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajaran di kelas.
4.      Memungkinkan peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditemukan walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda
5.      Memberikan informasi yang lebih komunikatif kepada orang tua dan masyarakat tentang efektifitas pendidikan.

G.    Jenis-Jenis Penilaian Berbasis Kelas
Secara umum penilaian berbasis kelas antara lain:
1.      Tes Tertulis
Tes tertulis merupakan alat penilaian berbasis kelas yang penyajian maupun penggunaannya dalam bentuk tertulis. Tes tertulis dapat diberikan pada saat ulangan harian dan ulangan umum. bentuk tes tertulis dapat berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, isian singkat, dan uraian (esay). Tes tertulis biasanya sangat cocok untuk hampir semua kompetensi yang terdapat dalam kurikulum.

2.      Tes Perbuatan
Tes perbuatan dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung yang memungkinkan terjadinya praktek. Pengamatan dilakukan terhadap perilaku peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung.
3.      Pemberian Tugas
Pelaksanaan pemberian tugas perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Banyaknya tugas satu mata pelajaran diusahakan agar tidak memberatkan peserta didik.
b.      Jenis dan materi pemberian tugas harus didasarkan kepada tujuan pemberian tugas yaitu untuk melatih peserta didik menerapkan atau menggunkan hasil pembelajarannya dan memperkaya wawasan pengetahuannya
c.       Diupayakan pemberian tugas dapat mengembangkan kreatifitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian.
4.      Penilaian Proyek
Penilaian proyek adalah penilaian berbasis kelas terhadap tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Penilaian proyek dilakukan mulai dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data.
5.      Penilaian produk
Adalah penilaian berbasis kelas terhadap penguasaan keterampilan peserta didik dalam membuat suatu produk (proses) dan penilaian kwalitas hasil kerja peserta didik (produk) tertentu. Pelaksanaan penilaian produk meliputi penilaian berbasis kelas terhadap tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.       Tahap persiapan. Menilai keterampilan merencanakan, merancang, mengali, atau mengembangkan ide.
b.      Tahap produksi. Menilai kemampuan memilih dan menggunakan bahan, alat, dan teknik kerja.
c.        Tahap penilaian (Appraisal)
6.      Penilaian Sikap
Penialaian sikap dalam berbagai mata pelajaran secara umum dapat dilakukan berkaitan dengan berbagai objek, sikap antara lain:
a.       Sikap terhadap mata pelajaran
b.      Sikap terhadap guru mata pelajaran
c.       Sikap terhadap proses pembelajaran
d.      Sikap terhadap materi pembelajaran
e.       Sikap berhubungan dengan nilai-nilai yang ingin di tanamkan dalam diri peserta didik melalui materi tertentu.

Ø  Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan berbagai cara:
a.       Observasi perilaku
b.      Pertanyaan langsung
c.       Laporan pribadi
d.      Penggunaan skala sikap

7.      Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian berbasisi kelas terhadap sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun waktu, digunakan oleh guru dan peserta didika untuk memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didi dalam mata pelajaran tertentu
Dalam dunia pendidikan tidak terlepas dari aktivitas pembelajaran. Pembelajaran itu sendiri untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya dilakukan apa yang disebut dengan penilaian. Kesadaran para ahli pendidikan terhadap rendahnya penguasaan materi dan rendahnya skor hasil tes mendorong terjadinya reformasi dalam pembelajaran. Selain itu, bagaimana anak belajar dan perkembangan teori belajar ikut mendorong reformasi pembelajaran. Reformasi pembelajaran juga diikuti dengan reformasi dalam penilaian belajar. 
Reformasi pembelajaran dan penilaian belajar saat ini adalah munculnya gagasan untuk memperbaharui kurikulum. Kurikulum berbasis kompetensi (kurikulum 2004) mempromosikan bahwa belajar adalah proses membangun kecakapan hidup dan menjalankan kehidupan secara utuh, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan hidup sosial, kecakapan berpikir kritis, kecakapan melakukan penyelidikan untuk memecahkan masalah (kecakapan akademik) dan kecakapan vokasional (Depdiknas, 2002), sedangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan menekankan pada adanya otonomi pembelajaran dan menetapkan capaian hasil belajar yang lengkap dan komprehensif.

Reformasi kurikulum diimplementasikan dengan diterapkannya strategi pembelajaran baru, yaitu pembelajaran konstruktivis yang kontekstual (pembelajaran kontekstual) dan penilaian belajar baru yaitu penilaian yang bersifat otentik (authentic assessment) yang juga disebut dengan penilaian berbasis kelas.Oleh sebab itu, maka pembahasan dalam makalah ini akan lebih banyak memaparkan hakikat dan konsep-konsep yang berkenaan dengan penilaian berbasis kelas.
H.    Strategi Penilaian Berbasis Kelas.
Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar dalam bidang evaluasi/ penilaian pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar ke dalam 6 (enam) langkah pokok, yakni:

1.      Menyusun Rencana Evaluasi Hasil Belajar.
Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun lebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya oleh Sudijono (2003:59) mencakup enam jenis kegiatan, yakni:
(a)    Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi.
(b)   menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi,
(c)    memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi,
(d)    Menyusun alat-alat pengukur dan penilaian hasil belajar peserta didik,
(e)     Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi dan
(f)     Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).
2.      Menghimpun Data.
Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil belajar (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik tes), atau melakukan pengamatan, wawancara, atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide, atau questionnaire (apabila evaluasi hasil belajar menggunakan teknis non tes).
3.      Melakukan Verifikasi Data
Data yang telah berhasil dihimpun harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang “baik” (yaitu data yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “kurang baik” (yaitu data yang akan menguburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah).
4.      Mengolah dan Menganalisis Data.
Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Untuk keperluan itu, maka data hasil evaluasi perlu disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga “dapat berbicara”. Dalam menggolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistik dan atau teknik non statistik, tergantung kepada jenis data yang akan diolah atau dianalisis. Dengan analisis statistic misalnya, penyusunan atau pengaturan dan penyajian data lewat tabel-tabel, grafik, atau diagram, perhitungan-perhitungan rata-rata, standar deviasi, pengukuran korelasi, uji benda mean, atau uji benda frekuensi dan sebagainya akan dapat menghasilkan informasi-informasi yang lebih lengkap dan amat berharga.
5.      Memberikan Interpretasi dan Menarik Kesimpulan
Memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi terhadap data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang tentu harus mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.
6.      Tindak Lanjut Hasil Evaluasi
Bertitik tolak dari hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung di dalamnya, maka pada akhirnya evaluator akan mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan hasil evaluasi tersebut. Harus senantiasa diingat bahwa setiap kegiatan evaluasi menuntut adanya tindak lanjut yang konkrit. Tanpa diikuti oleh tindak lanjut yang konkrit, maka pekerjaan evaluasi itu hanya akan sampai kepada pernyataan, yang menyatakan bahwa; “saya tahu, bahwa begini dan itu begitu”. Apabila hal seperti itu terjadi, maka kegiatan evaluasi itu sebenarnya tidak banyak membawa manfaat.
















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Penilaian berbasis kelas adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka pembelajaran. Penilaian berbasis kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian belajar yang terdapat dalam kurikulum. penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir periode tetapi dilakukan secara terintregrasi dari kegiatan pembelajaran dalam arti kemajuan belajar dinilai dari proses bukan semata-mata hasil. Prinsip-prinsip dasar yang harus digunakan adalah motivasi, valid, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna, menyeluruh dan berorientasi pada kompetensi. Jenis-jenis penilaian berbasis kelas antara lain tes tertulis, tes perbuatan, penugasan, penilaian proyek, penilaian produk, penialaian sikap, dan  penilaian portofolio. Penilaian berbasis kelas bertujuan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosis kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses pembelajaran, penentuan kenaikan kelas, dan memotivasi belajar peserta didik dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan.










DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2010. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Adi Mahastya.
Zaenal Arifin. 2010. Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rusda Karya.
 Mulyadi. 2010. Evaluasi Pendidikan. Malang: UIN Maliki Press.
Ngalim Purwanto.  2002. Evaluasi Pengajaran. Bandung; Remaja Rosdakarya.


Comments

Popular posts from this blog

supervision of school management

1 CHAPTER I PRELIMINARY A. Background Education is a very strategic tool within preserving the value system that evolves in life.   Process education not only provides participants with knowledge and understanding educate, but more directed to the formation of attitudes, behaviors and the personality of learners, given the development of communication, information and the presence of print and electronic media does not always bring positive influence for learners. The educator's job in this context helps to condition the pesera educate on the attitude, behavior or the right personality, in order to be able to become agents of modernization  for himself, the environment, society and anyone encountered without having to distinguish the tribe, religion, race and class.   Education is directed towards humanizing human beings, or help the process of   hominization  and humanization, its intent and implementation the educational p...

learning style

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses perubahan baik prilaku, pengetahuan dan budaya. Hal ini terkait dengan bagaimana proses interaksi terjalin dengan efektif, saat guru koofratif dengan peserta didik yaitu tidak membeda-bedakan perlakuan. Disamping guru harus bersikap arif, bijaksana dan penuh kasih sayang sebagai landasan dalam mentranformasikan ilmu pengetahuan, sikap dan budaya, bahkan guru dituntut untuk senantiasa mengetahui karakteristik peserta didik di antaranya; Pertama Baground hight quality personality (latar belakang kualitas perseorangan). Latar belakang inilah yang kemudian peerta didik mempunyai gaya belajar masing-masiang misalnya; 40 jumlah peserta didik pasti memiliki gaya belajar yang berbeda-beda sesuai dengan bakat dan prilaku yang dibawanya. Kedua Sosial budaya yaitu peranan dan status seseorang tentunya memiliki status social yang heterogen pula seperti halnya; latar belakang keluarga yang termasuk golongan High Class (ti...