MAKALAH
MANAJEMEN PEMASARAN
Di Susun :
O
L
E
H
Nama : 1. YOAS 1511031094
2. ALEXANDER 1511031077
Kelas : B. 11
Prodi : pendidikan
Ekonomi
Mata kuliah : Manajemen Pemasaran
Dosen pengampu : Avelius
Dominggus Sore,.S.E.,M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSADA
KHATULISTIWA SINTANG
TAHUN
AKADEMIK 2016/2017
BAB IV ANALISIS PRODUK
1. PENGERTIAN
PRODUK DAN JENIS JENIS PRODUK
Produk
adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia
atau masyarakat. Produk berupa kebutuhan sekunder,primr dan tersier. selain itu
masyarakat konsumen atau pasar juga memiliki kebutuhan yang berupa jasa
pendidikan, kesehatan, kebugaran, kecantikan dan sebagainya. Semua itu
merupakan bagian contoh kebutuhan pasar.
a. Jenis-jenis
produk
Produk yang
harus disiapkan bagi konsumen tersebut dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1. Produk
yang berujud (tangible produk)
Produk yang berujud biasanya
disebut “barang” atau “goods”. Barang yang berujud ini dapat dibagi lagi menjadi
dua macam yakni:
a. Barang
konsumsi (consumer goods)
Barang konsumsi
adalah barang yang dibeli oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhannya dan akan
dikonsumsikannya sendiri beserta anggota keluarganya.
Barang konsumsi
dapat kita bedakan menjadi tiga yaitu:
1. Barang
kekbutuhan pokok yang juga disebut kebutuhan sehari-hari (conviaenence goods)
2. Barang
kebutuhan pelengkap atau alat-alat pelengkap hidup (rumah tangga) yanag sering
disebut shoping goods
3. Barang
kemewahan yang disebut barang special (specalty goods)
b. Barang
industry (industrial goods)
Barang industri
(industrial goods) adalah barang yang dibeli oleh konsumen untuk menjalankan
industry atau usaha bisnisnya dan bukan untuk dikonsumsiya sendiri bserta
keluarganya.
Barang industri
tentu saja berupa bahan baku atau alat-alat berupa mesin-mesin produksi, ataupu
bias pula berupa pakaian kerja kariawan, dan perlengkapan kantor lainnya.
2. Produk
yang tidak berujud
Produk yang
tidak berujud biasa kita sebut sehari-harinya dengan sebutan jasa atau servis.
Jasa atau servis ini memiliki banyak jenis. Karena masyarakat juga memiliki
mkebutuhkan jasa dan servisyang beraneka ragam pula.
Produk jasa ini
berupa jasa pendidikan, kecantikan, kebugaran tubuh, keamana, rekresi atau
hiburan, jasa repariasi, kebersihan, jasa notariat, jasa kesehatan dan
jasa-jasa lainnya.
b. Manajemen produk
Produk
harus lah cocok dengan pasar atau konsumennya, baik konsumen industry atau
konsumen akhir. Produk yang berhsail merupakan produk yang dapat menjadi cocok
dengan konsumen dan kemudian dapat disenangi olehnya serta kemudian konsumen
akan bersedia akan membelinya dan akan senantiasa membelinya berulang-ulang
terhadap produk kita. Keberhasilan produk tidak akan datang dengan sendirinya,
namun harus dilakukan upaya atau manajeman yang baik terhadapnya.
Manajemen
produk yang kurang baik akan berakibat dengan adanya sebuah kegagalan baik
kegagalan kecil maupun kegagalan yang besar terhadap produk kita. Kegagalan
sutu produk ditendai dengan tidak disenangi produk itu atau konsunen merasa tidak cocok denagn produk tersebut.
Sebaliknya produk yang berhasil akan menciptakan Produk Market Match (PMM) atau
kecocokan terhap produk pasar.
Titik
berat sebuah manajemen produk adalah berada pada perencanaannya karena dengan
perencanaan menentukan berhasil atau tidaknya produk tersebut. Jika perancang
atau perencanaannya baik maka produk tersebut akan berhasil dan begitupun
sebaliknya jika dari perencanaannya tidak baik atau buruk maka kemungkin untuk
produk tersebut berhasil sangatlah sedikit.
2. PERANCANGAN
PRODUK
Perancanagan produk meliputi tiga
hal yakni:
1.
Perencanaan produk yang
sama sekali baru (entirely new product)
2.
Redesain produk (produk
redesain)
3. KONSEP
DAN ATRIBUT PRODUK
a.
Konsep produk
Produk yang punya konsep adalah produk
yang memiliki kaitan ketercocokan dengan segment pasar tertentu. Segment pasar
atau konsumen tertentu akan menganggap cocok pada produk yang memberikan value
yang dinginkannya dan sebaliknya mereka akan tidak menyenangi produk lain yang
tidak sesuai dengan jati diri atau value yang dimiliki olehnya.
Jadi konsep produk adalah merupakan
hubungan katerkaitan atau kecocokan antara suatu produk dengan segmen pasar
tertentu.
Suatu produk akan memiliki hubungan
kecocokan dengan satu segmen pasar tertentu, atau dengan kata lain tidak semua
produk dapat cocok untuk untuk semua
segmen pasar. Misalnya produk rumah makan, ada rumah makan yang cocok untuk
segmen pasar golongan menengah, ada pula rumah makan yang cocok bagi konsumen
kelas atas dan rumah makan untuk kelas atas itu tentu saja tidak cocok bagi
konsumen kelas bawah.
Hubungan keterkaitan atau kecocokan
suatu produk dengan segmen konsumen tertentu itulah yang di sebut sebagai
konsep produk. Dengan konsep tersebut maka suatu produk akan memiliki posisi
atau image sendiri-sendiri sesuai dengan konsepnya masing-masing.
b.
Atribut produk
Atribut produk adalah sifat-sifat
atau aspek-aspek yang di miliki oleh suatu produk yang mana sifat-sifat
tersebut akan menjadi pertimbangan konsemen untuk menyenangi atau sebaliknya
membenci produk itu. Aspek yang akan membuat konsumen senang tersebut aspek
poitif, sedangkan aspek yang membuat konsemen tidak senang atau benci pada
produk tersebut atribut yang negatif.
c.
Jenis-jenis atribut
produk
Atribut produk yang sudah kita
bahas dimuka dapat dikelompokkan menjadi dua macam yakni:
1.
Atribut teknis
2. Atribut
emosional (non-teknikal)
Atribut teknis merupakan aspek
yang harus kita bubuhkan dalam produk kita untuk memenihi kebutuhan konsumen
akan fungsi teknis produk kita. Halini terkain dengan keinginan konsumen yang
menginginkan diperoleh manfaatnya teknis(technical benefit, technical value)
yang telah di pelajari dimuka. Atribut teknis ini tidak lain adalah berupa “
DAYA GUNA” produk kita. Produk kita tidak boleh tidak harus memiliki kegunaan
bagi konsumennya. Contoh mobil sedan digunakan konsumen untuk mengangkut
anggota keluarganya.
Atribut emosional atau atribut non
teknikal ini merupakan atribut untuk mendukung kebutuhan konsumen akan manfaat
emosional, non teknikal, pisikologis ataupun manfaat sosial mereka. atribut ini
berupa “DAYA BEDA” serta “DAYA TARIK” dari produk kita. Atribut
inilah yang akan membedakan produk kita dengan produk lain milik persaing kita.
Daya beda serta daya tarik inilah yang akan berfungsi “MAGNET” dari produk kita. semakin kuat magnet atau daya tarik
produk kita maka akan semakain kuat pula daya saing kita terhadap persaingan
dengan produk lain. Jadi produk kita harus senantiasa diusahakan untuk memiliki
daya tarik serta daya beda yang akan membentuk magnet yang kuat.
Perpaduan antara daya guna
(DG),daya beda (DB) dan daya tarik (DT) tersebut akan dapat membentuk konsep
produk. Kita harus pandai-pandai untuk mengintegrasikan antara DG + DB + DT
tersebut sedemikian rupa sehingga dapat membentuk suatu konsep produk yang akan
menarik konsumen untuk menyenangi dan kemudian membeli produk kita. Contoh
konsep produk yang telah disebutkan dimuka adalah suatu perpaduan yang baik
antara ketiga atribut tadi.
4. ANALISIS
POSISI PRODUK
Analisis ini sering di sebut
analisis peta posisi produk yang dapat dilakukan dengan dua cara menggambarkan
atribut produk yakni atribut teknis dan atribut emosional kedalam sebuah
grafik. Sumbu vertical dari grafik itu kita pergunakan untuk menggambarkan
atribut teknisnya, sedangkan sumbu harzontalnya dipergunakan untuk atribut
emosionalnya, atau sebaliknya. Dengan cara demikian maka kita akan dapat
memperoleh gambar mengenai “PETA POSISI
PRODUK” atau “PRODUCT POSITIONING”. Penggambaran peta posisi produk tersebut
dapat kita perdalam dengan mencoba untuk menggambarkan peta posisi produk
perbankan dikota Yogyakarta misalnya. Para konsumen perbankan akan senantiasa
mempertimbangkan 2 atribut utama dalam memilih bank mana yang cocok baginya.
Atribut tersebut adalah :
1. Tinggi
rendahnya bunga deposito.
2. Kecepatan
pelayanan (servis)-nya.
Tinggi rendahnya bunga deposito
atau tabungan yang diberikan oleh suatu bank akan menjadi pertimbangan nasabah
untuk senang menabung pada bank itu. Disamping itu nasabah juga
mempertimbangkan atribut pelayanan atau servis dari bank itu.
5. ANALISIS
PETA PRESEPSI PRODUK
Peta presepsi produk
apabila konsumen mempertimbangkan lebih dari 2 atribut Atau multi atribut. Peta
presepsi produk akan menggambarkan kekuatan serta kelemahan dari masing-masing
atribut.
6. KEY
PERFOMANCE INDICATOR (TOLAK UKUR KEBERHASILAN)
Kunci-kunci keberhasilan bagi
menejer pemasaran sudah kita pelajari bersama, “kecocokan produk pasar – KPP”
atau “product market match – PMM” atau “product market fit – PMF” , kemudian
“value Added” serta “emosional value” sebagai daya beda dan daya tarik produk
yang juga disebut sebagai “magnet” itu. Semua itu adalah merupakan bagi menejer
pemasaran untuk menuju keberhasilan bisnisnya.
Keberhasilan bisnis harus dapat
kita wujudkan dan kemudian kita tunjukan kepada semua pihak agar semua pihak
juga dapat mengetahui akan keberhasilan kita. Keberhasilan bisnis harus dapat
diukur oleh semua pihak baik interen maupun ekstern, sehingga par pemilik
perusahaan atau pemegang saham serta masyarak luas juga dapat memahami akan
kemajuan ataupun keberhasilan perusahaan kita. Adapun tolak ukur keberhasilan
bisnis kita sering kali secara popular disebut “key performance indicators”
yang biasa disingkat “KPI”. Indicator kunci keberhasilan bisnis tersebut secara
keseluruhan terdiri dari enam indicator yakni :
1.
Penghasilan /
pendapatan (income).
Keberhasialan suatu bisnis harus
ditunjukan dalam bentuk yang real dan dapat diukur oleh semua pihak yakni
bertambahnya penghasilan atau pendapatan (income) perusahaan. Income ini sering
pula disebut profit yang bagi pemasar, income akan merupakan “dana” yang
dibutuhkan bagi organisasi bisnis dimana bagian pemasaran itu berada
didalamnya. Dana yang dibutuhkanoleh perusahaan itu dapat diumpamakan seperti
“darah” bagi tubuh manusia. Jadi semakin banyak dana yang data dihasilkan oleh
bagian pemasaran, maka organisasi bisnis itu tak ubahnya seperti tubuh manusia
yang memiliki darah yang cukup. Tubuh akan menjadi sehat serta dapat berkembang
dengan baik. Dan begitukan sebaliknya. suatu organisasi bisnis harus dapt meningkankan
incomenya agar dapat hidup dengan sehat serta dapat senantiasa memperoleh
pertumbuhan bagi bisnisnya. Penciptaan dana inilah yang merupakan tugas utama
bagi pemasaran dalam mengemugikan “LOMOTIF
PEMASARAN” atau dalam menjalankan “proses pemasaran”-nya secara berhasil.
Bagi organisasi yang bersifat
nonprofit sekalipun harus dapat meningkatkan pendapatan bagi organisasinya.
Suatu organisasi pemerintahan, misalnya pemerintah daerah (PEMDA) juga harus
dapat meningkatkan pendapatan alsi daerah (PAD). hannya saja bagi PEMDA sering
kali upaya untuk meningkatkan PAD tersebut biasanya ditempuh dengan cara yang
langsung (direct) upaya tersebut biasanya ditempuh dengan cara menaikan tarif
retribusi, pajak daerah, maupaun pungutan-pungutan yang lain. Dan sebaliknya.
2.
Pertumbuhan (growth).
Pertambahan income atau penghasilan
itu harus dapat berwujudkan keberhasilan pada tahap kedua yakni pertumbuhan
(growth). Organisasi yang tumbuh sebagai akibat dari adanya income atau profit
lalu disebut “Profitable Growth”.
Pertumbuhan karena pertambahan income ini sebenarnya masih kurang baik dan
kurang mantap. Kemantapan pertumbuhan ditujukkan oleh adanya pertambahan aktiva
atau asset perusahaan; baik yang berupa kedaraan misalnya, mesin-mesin atau
peralatan pabrik, gedung-gedung ataupun tanah. Bertambahnya aktiva atau
kekayaan perusahaan akan dapat menimbulkan pertumbuhan yang lebih mantap dan
berdampak jangka panjang, yang biasanya disebut sebagai “Pertumbuhan Yang Berkesinambungan” ataupun “Sustainable Growth”.
3.
Keunggulan posisi
persaingan (competitive advantage).
Indicator kunci yang ketiga adalah
melajutkan yang kedua. Keberhasilan pada tahap ini merupakan terbentuknya “daya saing” yang lebih unggul bagi
organisasi bisnis kita. Posisi pesaingan yang lebih unggul dapat diukur dari
bertambahnya “Pangsa Pasar” atau ”Market Share” yang dapat diraih oleh
perusahaan. Apabila dulu hanya memiliki 10% market share misalnya, kemudian
dengan kesuksesan produk, yakni pruduk yang dapat berfungsi sebagai jembatan
penghubung yang lebih kokoh dan lebih kuat bagi konsumen, maka kita akan dapat
meningkatkan market share menjadi 15% misalnya. Daya saing yang semakin
meningkat derajat atau posisi perusahaan yang mungkin dulu hanya berkedudukan
sebagai “Follower”atau “Pengikut” sekarang dapat menjadi “Challenger” atau “Penantang” atau bahkan mungkin akan dapat menduduki posisi “Leader” atau “Pemimpin”.
4.
Kemandirian bisnis
(business advantage)
Keberhasilan berikutnya adalah
merupakan bentuk keunggulan posisi bisnis, yakni semakin bertambahnya
kemandirian bisnisnya. Bisnis yang mandiri berarti semakin kecil tingkat
ketergantungannya kepada pihak lain, baik dari pihak supplier bahan misalnya,
atau pun dari penyalur distributor ataupun dari pemasok teknologi misalnya.
Kemandirian ini dapat ditingkatkan biasanya dengan cara membentuk kerja sama
bisnis atau networking atau mungkin dengan kerja sama yang disebut outsoucing,
patungan ataupun joint venturing dan sebagainya.
5.
Citra bisnis ( corporate image)
Keberhasilan
pada tahap ini merupakan suatu keberhasilan yang berupa terbentuknya citra
positif dari konsumen atau masyarakat terhadap produk kita yang memang dinilai
memuaskan mereka. Bahkan konsumen atau masyarakat luas telah menganggap bahwa
produk kita memang merupakan sebuah jembatan yang kokoh, kuat dan tahan lama
bagi mereka, maka hal ini berarti telah terbentuk citra produk atau “Product Image”. Citra produk tersebut
apabila dapat dipertahankan lebih lanjut maka akan dapat membentuk citra
korporasi atau “Corporate Image”.
6.
Etika bisnis –budaya
korporasi (business etic - corporate culture)
Keberhasilan yang paling tinggi dan
paling sulit untuk diukur adalah membentuk etika bisnis, dimana dalam hal ini
manajer selalu menunjukkan kegiatan-kegiatannya itu secara etis atau dengan
cara-cara yang senantiasa bertanggung jawab terhadap lingkungan masyarakat.
Manajer tidak hanya memperhatikan kepentingan-kepentingan dirinya sendiri
ataupun kepentingan pemilik perusahaan (Pemegang
Saham/Stock Holder) saja akan tetapi juga selalu memperhatikan dan
bertanggung jawab terhadap “Stake
Holder”-nya yakni semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Stake
holder itu meliputi tidak saja hanya pemegang saham atau stock holder melainkan
juga para karyawan, konsumen, pemerintah maupun para pemberi modal atau
investor. Apabila cara kerja yang etis itu dapat berlangsung lama, maka lama
kelamaan akan menjadi kebiasaan yang baik dan kebiasaan yang menahun akan
membentuk menjadi budaya yakni “Budaya
Korporasi” atau “Corporate Culture”.
Etika
bisnis ini merupakan bentuk kepedulian social para pelaku bisnis terhadap
masyarakatnya atau stake holdernya. Kepedulian sosial suatu bisnis terhadap
masyarakat sekitarnya ini dipelajari lebih lanjut dalam suatu konsep yang
sekarang ini banyak dipelajari yang disebut “Corporate Social Responsibility” yang biasa disingkat “CSR”.
7. PENJABARAN
KUNCI SUKSES BAGI PENGUSAHA/ PEMASAR
Setelah
kita membahasa mengenai Analisis Pasar, yang dihubungkan dengan Analisis Produk
dan kemudian kita pelajari pula tentang Kata Kunci atau Kunci Suksesnya Manajer
Pemasaran dan bahkan terakhir kita membahas mengenai KPI sebagai tolok ukur
keberharhasilan usaha kita, maka marilah sekarang kita ikuti Pedoman Penjabaran
atas hal-hal tersebut.
Kegiatan
bisnis sehari-hari memerlukan adanya pengkajian untuk memperoleh suatu pedoman
kerja yang riil serta materiil dalam menjalankan bisnis agar senantiasa dapat
mencapai kesuksesan serta pertumbuhan. Kita pada umumnya melakukan kegiatan
bisnis secara asal-asalan, atau asal jalan. Hal ini seperti itu berakibat bahwa
bisnis kita menjadi tidak atau kurang berkembang. Pengusaha seperti itu
cenderung menjadi pengusaha yang tergolong marginal atau pengusaha pinggiran
atau terpinggirkan. Kita harus berpikir maju dan berkembang, sehingga bisnis
kita dapat menjadi semakin besar serta dapat membentuk kerajaan atau bahkan
kekaesaran bisnis kita
skema
atau gambar di atas yang menunjukkan pedoman riil dalam menjalankan bisnis,
didasarkan pada pemahaman teori atau konsep-konsep yang telah dipelajari oleh
penulis dan yang juga sudah diuraikan dalam buku ini, plus pengalaman riil yang
dialami sendiri oleh penulis dalam memimpin suatu perusahaan baik yang berskala
nasional maupun yang berskala regional. Penulis pernah bertugas sebagai
Direktur Utama suatu perusahaan yang berskala nasional, dari tahun 1990 sampai
dengan tahun 2002, yakni BPFE (Badan Penerbit Fakultas Ekonomi UGM). Penulis
juga berpengalaman sebagai Dewan Komisaris dari beberapa perusahaan yang
berskala regional yang sampai saat ini semakin berkembang dan posisi Dewan
Komisaris tersebut sampai sekarang kami masih menjabatnya. Perusahaan yang
disebut terakhir itu pada saat ini telah bergerak dibidang Angkutan Bus
Regular, Angkutan Bus Wisata, Toko Onderdil Mobil serta bisnis Wartel. Perusahan
tersebut dewasa ini sedang berusaha untuk mengembangkan gurita bisnisnya ke
bisnis Pertokoan atau bisnis retail, Perhotelan, dan Jasa Gedung Pertemuan.
Pedoman
tersebut terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu:
1. Dasar
Pikir
Hal yang paling
mendasar dalam memimpin suatu kegiatan bisnis adalah jangan sekali-kali kita
berpikir atau bertindak dengan dasar pikir “Mencari
Musuh”. Cara berpikir seperti ini sering tanpa kita sadari telah kita
lakukan dan tanpa disadari pula telah menjadi faktor penyebab utama terjadinya
kegagalan. Kita harus senantiasa bertindak dengan tuntunan “Mencari Sahabat” . baik dia itu adalah konsumen kita, ataupun
penyalur atau distributor kita (penyalur inipun sebenarnya juga konsumen kita,
yakni yang disebut konsumen industrial.
Karyawan juga
harus kita anggap dan kita perlakukan sebagai sahabat jangan diperlakukan
sebagai musuh yang menggerogoti kekayaan perusahaan kita. Karyawan adalah
sahabat atau mitra kerja dalam rangka mencari keuntungan.
Pola pikir bersahabat itu bagus, kita harus
memperlakukannya sebagai sahabat, namun jangan sampai membuat mereka itu, baik konsumen, penyalur dan
terutama karyawan janganlah sampai memanjakan mereka. Karyawan memang
seringkali, setelah diperlakukan dengan persahabatan, mereka lalu menjadi
manja, mereka lalu lupa diri dan menuntut berbagai hak yang seringkali
berlebihan, melebihi kemampuan perusahaan, sehingga berakibat terhambatnya
perusahaan untuk berinvestasi guna pengembangan bisnisnya. Kita harus
pandai-pandai mengatur persahabatan kita itu sedemikian rupa sehingga dapat “memotivasi” mereka untuk bekerja lebih
giat demi kemajuan mereka sendriri beserta perusahaan bersama-sama maju. Baik
mereka itu karyawan, maupun konsumen ataupun konsumen indusrial (penyalur), tanpa
membuat mereka menjadi manja
2. Streategi
Bisnis
Strategi
merupakan suatu arah pengembangan bisnis yang bersifat ideal yang ingin kita
jangkau dimasa depan. Kita harus senantiasa mengembangkan edialisme kita, hal
ini dalam teori sering disebut sebagai visi dan misi atau juga disebut Obsesi.
Kita sebagai pemimpin harus pandai mengembangkan visi-misi serta obsesi yang
tidak utopia atau khayalan belaka, namun harus realistis atas dasar kekuatan
atau asset yang dimiliki pada saat ini. Beberapa contoh konkrit obsesi tersebut
dapat dilihat pada skema di atas.
Obsesi atau visi
dan misi tersebut akan menuntun kita bergerak terus secara dinamis sehinnga
kita dapat menjadi leader atau paling tidak challenger dan dapat menduduki
posisi-posisi persaingan yang unggul dalam bidangnya masing-masing. Dengan
demikian kita dapat mendengar dari, atau harus menghindarkan diri dari kondisi
yang menjadi kaun marjinalis, kaum marjinalis dan nanti hanya akan menjadi
foloweris saja, yang tidak memiliki daya saing yang tinggi. Hal ini memang
sangat dituntut adanya “Kreativitas”
pikir yang semakin tinggi. Sehubungan dengan hal ini maka kita harus
menggunakan cara berpikir yang sering diungkapkan sebagai “Think globally, but act locally”. Kita harus dapat berpikir seperti orang jerman, akan tetapi
kita tetap harus bersikap, berperilaku dan berbudaya sebagai orang Indonesia.
Kita jangan lah menggunakan cara berpikir dalam bentuk “Think globally and act globally”, ini akan
berakibat timbulnya modernisasi, namun akan menjadi kebarat-baratan atau westernisasi.
Begitu pula kita juga jangan menggunakan cara berpikir “Think locally”, hal
inilah yang sering kita lakukan yang berakibat kita selalu terbelakang
termarjinalkan dan terpinggirkan.
3. Pedonan
Kerja
Terakhir kita harus
selalu memiliki program yang jelas ,terukur (ada alat ukurnya, yaitu KPI yang
baru saja kita bahas diatas), challenging artinya program kerja kita harus
menantang jangan program kerja yang sangat minimalis tidak menantang. Terakhir
program kerja itu harus applicable atau dapat dijangkau dengan mengerahkan
segenap kemampuan dan kekuatan kita tentunya atau dengan kata lain dengan kerja
keras. Program kerja kita jangan sampai terlalu muluk-muluk atau utopia (hanya
impian belaka yang tidak ralistis). Program
kita harus istilahnya “membumi
atau grounded”, berdasarkan atas SWOT pihak lain, baik dari pihak supplier bahan
misalnya ataupu dari penyalur atau distributor, ataupun dari pemasok teknologi
misalnya. Kemandirian ini dapat ditingkatkan biasanya dengan cara membentuk
kerja sama bisnis atau networking, atau mungkin dengan kerja sama yang disebut
outsourcing, patungan ataupun joint venturing dan sebagainya.
Comments
Post a Comment
name:
country