Skip to main content

analisis produk


MAKALAH
MANAJEMEN PEMASARAN

Di Susun :
O
                                                                     L                                          
 E
 H
Nama                     :    1. YOAS                                          1511031094
                                   2. ALEXANDER                            1511031077   
Kelas                     :    B. 11
Prodi                     :    pendidikan Ekonomi
Mata kuliah           :    Manajemen Pemasaran
Dosen pengampu  :    Avelius Dominggus Sore,.S.E.,M.Pd


stkip.persada.khatulistiwa.sintang.jpg


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSADA KHATULISTIWA SINTANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

BAB IV ANALISIS PRODUK
1.      PENGERTIAN PRODUK DAN JENIS JENIS PRODUK
Produk adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia atau masyarakat. Produk berupa kebutuhan sekunder,primr dan tersier. selain itu masyarakat konsumen atau pasar juga memiliki kebutuhan yang berupa jasa pendidikan, kesehatan, kebugaran, kecantikan dan sebagainya. Semua itu merupakan bagian contoh kebutuhan pasar.
a.       Jenis-jenis produk
Produk yang harus disiapkan bagi konsumen tersebut dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1.      Produk yang berujud (tangible produk)
Produk yang berujud biasanya disebut “barang” atau “goods”. Barang yang berujud ini dapat dibagi lagi menjadi dua macam yakni:
a.       Barang konsumsi (consumer goods)
Barang konsumsi adalah barang yang dibeli oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhannya dan akan dikonsumsikannya sendiri beserta anggota keluarganya.
Barang konsumsi dapat kita bedakan menjadi tiga yaitu:
1.      Barang kekbutuhan pokok yang juga disebut kebutuhan sehari-hari (conviaenence goods)
2.      Barang kebutuhan pelengkap atau alat-alat pelengkap hidup (rumah tangga) yanag sering disebut shoping goods
3.      Barang kemewahan yang disebut barang special (specalty goods)
b.      Barang industry (industrial goods)
Barang industri (industrial goods) adalah barang yang dibeli oleh konsumen untuk menjalankan industry atau usaha bisnisnya dan bukan untuk dikonsumsiya sendiri bserta keluarganya.
Barang industri tentu saja berupa bahan baku atau alat-alat berupa mesin-mesin produksi, ataupu bias pula berupa pakaian kerja kariawan, dan perlengkapan kantor lainnya.
2.      Produk yang tidak berujud
Produk yang tidak berujud biasa kita sebut sehari-harinya dengan sebutan jasa atau servis. Jasa atau servis ini memiliki banyak jenis. Karena masyarakat juga memiliki mkebutuhkan jasa dan servisyang beraneka ragam pula.
Produk jasa ini berupa jasa pendidikan, kecantikan, kebugaran tubuh, keamana, rekresi atau hiburan, jasa repariasi, kebersihan, jasa notariat, jasa kesehatan dan jasa-jasa lainnya.
b.       Manajemen produk
Produk harus lah cocok dengan pasar atau konsumennya, baik konsumen industry atau konsumen akhir. Produk yang berhsail merupakan produk yang dapat menjadi cocok dengan konsumen dan kemudian dapat disenangi olehnya serta kemudian konsumen akan bersedia akan membelinya dan akan senantiasa membelinya berulang-ulang terhadap produk kita. Keberhasilan produk tidak akan datang dengan sendirinya, namun harus dilakukan upaya atau manajeman yang baik terhadapnya.
Manajemen produk yang kurang baik akan berakibat dengan adanya sebuah kegagalan baik kegagalan kecil maupun kegagalan yang besar terhadap produk kita. Kegagalan sutu produk ditendai dengan tidak disenangi produk itu atau konsunen merasa  tidak cocok denagn produk tersebut. Sebaliknya produk yang berhasil akan menciptakan Produk Market Match (PMM) atau kecocokan terhap produk pasar.
Titik berat sebuah manajemen produk adalah berada pada perencanaannya karena dengan perencanaan menentukan berhasil atau tidaknya produk tersebut. Jika perancang atau perencanaannya baik maka produk tersebut akan berhasil dan begitupun sebaliknya jika dari perencanaannya tidak baik atau buruk maka kemungkin untuk produk tersebut berhasil sangatlah sedikit.
2.      PERANCANGAN PRODUK
Perancanagan produk meliputi tiga hal yakni:
1.      Perencanaan produk yang sama sekali baru (entirely new product)
2.      Redesain produk (produk redesain)
3.      KONSEP DAN ATRIBUT PRODUK
a.       Konsep produk
        Produk yang punya konsep adalah produk yang memiliki kaitan ketercocokan dengan segment pasar tertentu. Segment pasar atau konsumen tertentu akan menganggap cocok pada produk yang memberikan value yang dinginkannya dan sebaliknya mereka akan tidak menyenangi produk lain yang tidak sesuai dengan jati diri atau value yang dimiliki olehnya.
        Jadi konsep produk adalah merupakan hubungan katerkaitan atau kecocokan antara suatu produk dengan segmen pasar tertentu.
        Suatu produk akan memiliki hubungan kecocokan dengan satu segmen pasar tertentu, atau dengan kata lain tidak semua produk dapat  cocok untuk untuk semua segmen pasar. Misalnya produk rumah makan, ada rumah makan yang cocok untuk segmen pasar golongan menengah, ada pula rumah makan yang cocok bagi konsumen kelas atas dan rumah makan untuk kelas atas itu tentu saja tidak cocok bagi konsumen kelas bawah.
        Hubungan keterkaitan atau kecocokan suatu produk dengan segmen konsumen tertentu itulah yang di sebut sebagai konsep produk. Dengan konsep tersebut maka suatu produk akan memiliki posisi atau image sendiri-sendiri sesuai dengan konsepnya masing-masing.
b.      Atribut produk
              Atribut produk adalah sifat-sifat atau aspek-aspek yang di miliki oleh suatu produk yang mana sifat-sifat tersebut akan menjadi pertimbangan konsemen untuk menyenangi atau sebaliknya membenci produk itu. Aspek yang akan membuat konsumen senang tersebut aspek poitif, sedangkan aspek yang membuat konsemen tidak senang atau benci pada produk tersebut atribut yang negatif.
c.       Jenis-jenis atribut produk
              Atribut produk yang sudah kita bahas dimuka dapat dikelompokkan menjadi dua macam yakni:
1.      Atribut teknis
2.      Atribut emosional (non-teknikal)
              Atribut teknis merupakan aspek yang harus kita bubuhkan dalam produk kita untuk memenihi kebutuhan konsumen akan fungsi teknis produk kita. Halini terkain dengan keinginan konsumen yang menginginkan diperoleh manfaatnya teknis(technical benefit, technical value) yang telah di pelajari dimuka. Atribut teknis ini tidak lain adalah berupa “ DAYA GUNA” produk kita. Produk kita tidak boleh tidak harus memiliki kegunaan bagi konsumennya. Contoh mobil sedan digunakan konsumen untuk mengangkut anggota keluarganya.
              Atribut emosional atau atribut non teknikal ini merupakan atribut untuk mendukung kebutuhan konsumen akan manfaat emosional, non teknikal, pisikologis ataupun manfaat sosial mereka. atribut ini berupa “DAYA BEDA” serta “DAYA TARIK” dari produk kita. Atribut inilah yang akan membedakan produk kita dengan produk lain milik persaing kita. Daya beda serta daya tarik inilah yang akan berfungsi “MAGNET” dari produk kita. semakin kuat magnet atau daya tarik produk kita maka akan semakain kuat pula daya saing kita terhadap persaingan dengan produk lain. Jadi produk kita harus senantiasa diusahakan untuk memiliki daya tarik serta daya beda yang akan membentuk magnet yang kuat.
              Perpaduan antara daya guna (DG),daya beda (DB) dan daya tarik (DT) tersebut akan dapat membentuk konsep produk. Kita harus pandai-pandai untuk mengintegrasikan antara DG + DB + DT tersebut sedemikian rupa sehingga dapat membentuk suatu konsep produk yang akan menarik konsumen untuk menyenangi dan kemudian membeli produk kita. Contoh konsep produk yang telah disebutkan dimuka adalah suatu perpaduan yang baik antara ketiga atribut tadi.
4.      ANALISIS POSISI PRODUK
Analisis ini sering di sebut analisis peta posisi produk yang dapat dilakukan dengan dua cara menggambarkan atribut produk yakni atribut teknis dan atribut emosional kedalam sebuah grafik. Sumbu vertical dari grafik itu kita pergunakan untuk menggambarkan atribut teknisnya, sedangkan sumbu harzontalnya dipergunakan untuk atribut emosionalnya, atau sebaliknya. Dengan cara demikian maka kita akan dapat memperoleh gambar mengenai “PETA POSISI PRODUK”  atau “PRODUCT POSITIONING”. Penggambaran peta posisi produk tersebut dapat kita perdalam dengan mencoba untuk menggambarkan peta posisi produk perbankan dikota Yogyakarta misalnya. Para konsumen perbankan akan senantiasa mempertimbangkan 2 atribut utama dalam memilih bank mana yang cocok baginya. Atribut tersebut adalah :
1.      Tinggi rendahnya bunga deposito.
2.      Kecepatan pelayanan (servis)-nya.
             
              Tinggi rendahnya bunga deposito atau tabungan yang diberikan oleh suatu bank akan menjadi pertimbangan nasabah untuk senang menabung pada bank itu. Disamping itu nasabah juga mempertimbangkan atribut pelayanan atau servis dari bank itu.
5.      ANALISIS PETA PRESEPSI PRODUK
Peta presepsi produk apabila konsumen mempertimbangkan lebih dari 2 atribut Atau multi atribut. Peta presepsi produk akan menggambarkan kekuatan serta kelemahan dari masing-masing atribut.

6.      KEY PERFOMANCE INDICATOR (TOLAK UKUR KEBERHASILAN)
              Kunci-kunci keberhasilan bagi menejer pemasaran sudah kita pelajari bersama, “kecocokan produk pasar – KPP” atau “product market match – PMM” atau “product market fit – PMF” , kemudian “value Added” serta “emosional value” sebagai daya beda dan daya tarik produk yang juga disebut sebagai “magnet” itu. Semua itu adalah merupakan bagi menejer pemasaran untuk menuju keberhasilan bisnisnya.
              Keberhasilan bisnis harus dapat kita wujudkan dan kemudian kita tunjukan kepada semua pihak agar semua pihak juga dapat mengetahui akan keberhasilan kita. Keberhasilan bisnis harus dapat diukur oleh semua pihak baik interen maupun ekstern, sehingga par pemilik perusahaan atau pemegang saham serta masyarak luas juga dapat memahami akan kemajuan ataupun keberhasilan perusahaan kita. Adapun tolak ukur keberhasilan bisnis kita sering kali secara popular disebut “key performance indicators” yang biasa disingkat “KPI”. Indicator kunci keberhasilan bisnis tersebut secara keseluruhan terdiri dari enam indicator yakni :
1.     Penghasilan / pendapatan (income).
          Keberhasialan suatu bisnis harus ditunjukan dalam bentuk yang real dan dapat diukur oleh semua pihak yakni bertambahnya penghasilan atau pendapatan (income) perusahaan. Income ini sering pula disebut profit yang bagi pemasar, income akan merupakan “dana” yang dibutuhkan bagi organisasi bisnis dimana bagian pemasaran itu berada didalamnya. Dana yang dibutuhkanoleh perusahaan itu dapat diumpamakan seperti “darah” bagi tubuh manusia. Jadi semakin banyak dana yang data dihasilkan oleh bagian pemasaran, maka organisasi bisnis itu tak ubahnya seperti tubuh manusia yang memiliki darah yang cukup. Tubuh akan menjadi sehat serta dapat berkembang dengan baik. Dan begitukan sebaliknya. suatu organisasi bisnis harus dapt meningkankan incomenya agar dapat hidup dengan sehat serta dapat senantiasa memperoleh pertumbuhan bagi bisnisnya. Penciptaan dana inilah yang merupakan tugas utama bagi pemasaran dalam mengemugikan “LOMOTIF PEMASARAN” atau dalam menjalankan “proses pemasaran”-nya secara berhasil.
          Bagi organisasi yang bersifat nonprofit sekalipun harus dapat meningkatkan pendapatan bagi organisasinya. Suatu organisasi pemerintahan, misalnya pemerintah daerah (PEMDA) juga harus dapat meningkatkan pendapatan alsi daerah (PAD). hannya saja bagi PEMDA sering kali upaya untuk meningkatkan PAD tersebut biasanya ditempuh dengan cara yang langsung (direct) upaya tersebut biasanya ditempuh dengan cara menaikan tarif retribusi, pajak daerah, maupaun pungutan-pungutan yang lain. Dan sebaliknya.
2.     Pertumbuhan (growth).
          Pertambahan income atau penghasilan itu harus dapat berwujudkan keberhasilan pada tahap kedua yakni pertumbuhan (growth). Organisasi yang tumbuh sebagai akibat dari adanya income atau profit lalu disebut “Profitable Growth”. Pertumbuhan karena pertambahan income ini sebenarnya masih kurang baik dan kurang mantap. Kemantapan pertumbuhan ditujukkan oleh adanya pertambahan aktiva atau asset perusahaan; baik yang berupa kedaraan misalnya, mesin-mesin atau peralatan pabrik, gedung-gedung ataupun tanah. Bertambahnya aktiva atau kekayaan perusahaan akan dapat menimbulkan pertumbuhan yang lebih mantap dan berdampak jangka panjang, yang biasanya disebut sebagai “Pertumbuhan Yang Berkesinambungan” ataupun “Sustainable Growth”.     
3.     Keunggulan posisi persaingan (competitive advantage).
          Indicator kunci yang ketiga adalah melajutkan yang kedua. Keberhasilan pada tahap ini merupakan terbentuknya “daya saing” yang lebih unggul bagi organisasi bisnis kita. Posisi pesaingan yang lebih unggul dapat diukur dari bertambahnya “Pangsa Pasar” atau ”Market Share” yang dapat diraih oleh perusahaan. Apabila dulu hanya memiliki 10% market share misalnya, kemudian dengan kesuksesan produk, yakni pruduk yang dapat berfungsi sebagai jembatan penghubung yang lebih kokoh dan lebih kuat bagi konsumen, maka kita akan dapat meningkatkan market share menjadi 15% misalnya. Daya saing yang semakin meningkat derajat atau posisi perusahaan yang mungkin dulu hanya berkedudukan sebagai “Follower”atau “Pengikut” sekarang dapat menjadi “Challenger” atau “Penantang” atau bahkan mungkin akan dapat menduduki posisi “Leader” atau “Pemimpin”.
4.     Kemandirian bisnis (business advantage)
          Keberhasilan berikutnya adalah merupakan bentuk keunggulan posisi bisnis, yakni semakin bertambahnya kemandirian bisnisnya. Bisnis yang mandiri berarti semakin kecil tingkat ketergantungannya kepada pihak lain, baik dari pihak supplier bahan misalnya, atau pun dari penyalur distributor ataupun dari pemasok teknologi misalnya. Kemandirian ini dapat ditingkatkan biasanya dengan cara membentuk kerja sama bisnis atau networking atau mungkin dengan kerja sama yang disebut outsoucing, patungan ataupun joint venturing dan sebagainya.
5.     Citra  bisnis ( corporate image)
Keberhasilan pada tahap ini merupakan suatu keberhasilan yang berupa terbentuknya citra positif dari konsumen atau masyarakat terhadap produk kita yang memang dinilai memuaskan mereka. Bahkan konsumen atau masyarakat luas telah menganggap bahwa produk kita memang merupakan sebuah jembatan yang kokoh, kuat dan tahan lama bagi mereka, maka hal ini berarti telah terbentuk citra produk atau “Product Image”. Citra produk tersebut apabila dapat dipertahankan lebih lanjut maka akan dapat membentuk citra korporasi atau “Corporate Image”.

6.     Etika bisnis –budaya korporasi (business etic - corporate culture)
          Keberhasilan yang paling tinggi dan paling sulit untuk diukur adalah membentuk etika bisnis, dimana dalam hal ini manajer selalu menunjukkan kegiatan-kegiatannya itu secara etis atau dengan cara-cara yang senantiasa bertanggung jawab terhadap lingkungan masyarakat. Manajer tidak hanya memperhatikan kepentingan-kepentingan dirinya sendiri ataupun kepentingan pemilik perusahaan (Pemegang Saham/Stock Holder) saja akan tetapi juga selalu memperhatikan dan bertanggung jawab terhadap “Stake Holder”-nya yakni semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Stake holder itu meliputi tidak saja hanya pemegang saham atau stock holder melainkan juga para karyawan, konsumen, pemerintah maupun para pemberi modal atau investor. Apabila cara kerja yang etis itu dapat berlangsung lama, maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan yang baik dan kebiasaan yang menahun akan membentuk menjadi budaya yakni “Budaya Korporasi” atau “Corporate Culture”.
Etika bisnis ini merupakan bentuk kepedulian social para pelaku bisnis terhadap masyarakatnya atau stake holdernya. Kepedulian sosial suatu bisnis terhadap masyarakat sekitarnya ini dipelajari lebih lanjut dalam suatu konsep yang sekarang ini banyak dipelajari yang disebut “Corporate Social Responsibility” yang biasa disingkat “CSR”.

                

7.      PENJABARAN KUNCI SUKSES BAGI PENGUSAHA/ PEMASAR
Setelah kita membahasa mengenai Analisis Pasar, yang dihubungkan dengan Analisis Produk dan kemudian kita pelajari pula tentang Kata Kunci atau Kunci Suksesnya Manajer Pemasaran dan bahkan terakhir kita membahas mengenai KPI sebagai tolok ukur keberharhasilan usaha kita, maka marilah sekarang kita ikuti Pedoman Penjabaran atas hal-hal tersebut.
Kegiatan bisnis sehari-hari memerlukan adanya pengkajian untuk memperoleh suatu pedoman kerja yang riil serta materiil dalam menjalankan bisnis agar senantiasa dapat mencapai kesuksesan serta pertumbuhan. Kita pada umumnya melakukan kegiatan bisnis secara asal-asalan, atau asal jalan. Hal ini seperti itu berakibat bahwa bisnis kita menjadi tidak atau kurang berkembang. Pengusaha seperti itu cenderung menjadi pengusaha yang tergolong marginal atau pengusaha pinggiran atau terpinggirkan. Kita harus berpikir maju dan berkembang, sehingga bisnis kita dapat menjadi semakin besar serta dapat membentuk kerajaan atau bahkan kekaesaran bisnis kita
skema atau gambar di atas yang menunjukkan pedoman riil dalam menjalankan bisnis, didasarkan pada pemahaman teori atau konsep-konsep yang telah dipelajari oleh penulis dan yang juga sudah diuraikan dalam buku ini, plus pengalaman riil yang dialami sendiri oleh penulis dalam memimpin suatu perusahaan baik yang berskala nasional maupun yang berskala regional. Penulis pernah bertugas sebagai Direktur Utama suatu perusahaan yang berskala nasional, dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2002, yakni BPFE (Badan Penerbit Fakultas Ekonomi UGM). Penulis juga berpengalaman sebagai Dewan Komisaris dari beberapa perusahaan yang berskala regional yang sampai saat ini semakin berkembang dan posisi Dewan Komisaris tersebut sampai sekarang kami masih menjabatnya. Perusahaan yang disebut terakhir itu pada saat ini telah bergerak dibidang Angkutan Bus Regular, Angkutan Bus Wisata, Toko Onderdil Mobil serta bisnis Wartel. Perusahan tersebut dewasa ini sedang berusaha untuk mengembangkan gurita bisnisnya ke bisnis Pertokoan atau bisnis retail, Perhotelan, dan Jasa Gedung Pertemuan.



Pedoman tersebut terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu:
1.      Dasar Pikir
Hal yang paling mendasar dalam memimpin suatu kegiatan bisnis adalah jangan sekali-kali kita berpikir atau bertindak dengan dasar pikir “Mencari Musuh”. Cara berpikir seperti ini sering tanpa kita sadari telah kita lakukan dan tanpa disadari pula telah menjadi faktor penyebab utama terjadinya kegagalan. Kita harus senantiasa bertindak dengan tuntunan “Mencari Sahabat” . baik dia itu adalah konsumen kita, ataupun penyalur atau distributor kita (penyalur inipun sebenarnya juga konsumen kita, yakni yang disebut konsumen industrial.
Karyawan juga harus kita anggap dan kita perlakukan sebagai sahabat jangan diperlakukan sebagai musuh yang menggerogoti kekayaan perusahaan kita. Karyawan adalah sahabat atau mitra kerja dalam rangka mencari keuntungan.
Pola pikir  bersahabat itu bagus, kita harus memperlakukannya sebagai sahabat, namun jangan sampai membuat  mereka itu, baik konsumen, penyalur dan terutama karyawan janganlah sampai memanjakan mereka. Karyawan memang seringkali, setelah diperlakukan dengan persahabatan, mereka lalu menjadi manja, mereka lalu lupa diri dan menuntut berbagai hak yang seringkali berlebihan, melebihi kemampuan perusahaan, sehingga berakibat terhambatnya perusahaan untuk berinvestasi guna pengembangan bisnisnya. Kita harus pandai-pandai mengatur persahabatan kita itu sedemikian rupa sehingga dapat “memotivasi” mereka untuk bekerja lebih giat demi kemajuan mereka sendriri beserta perusahaan bersama-sama maju. Baik mereka itu karyawan, maupun konsumen ataupun konsumen indusrial (penyalur), tanpa membuat mereka menjadi manja

2.      Streategi Bisnis
Strategi merupakan suatu arah pengembangan bisnis yang bersifat ideal yang ingin kita jangkau dimasa depan. Kita harus senantiasa mengembangkan edialisme kita, hal ini dalam teori sering disebut sebagai visi dan misi atau juga disebut Obsesi. Kita sebagai pemimpin harus pandai mengembangkan visi-misi serta obsesi yang tidak utopia atau khayalan belaka, namun harus realistis atas dasar kekuatan atau asset yang dimiliki pada saat ini. Beberapa contoh konkrit obsesi tersebut dapat dilihat pada skema di atas.
Obsesi atau visi dan misi tersebut akan menuntun kita bergerak terus secara dinamis sehinnga kita dapat menjadi leader atau paling tidak challenger dan dapat menduduki posisi-posisi persaingan yang unggul dalam bidangnya masing-masing. Dengan demikian kita dapat mendengar dari, atau harus menghindarkan diri dari kondisi yang menjadi kaun marjinalis, kaum marjinalis dan nanti hanya akan menjadi foloweris saja, yang tidak memiliki daya saing yang tinggi. Hal ini memang sangat dituntut adanya “Kreativitas” pikir yang semakin tinggi. Sehubungan dengan hal ini maka kita harus menggunakan cara berpikir yang sering diungkapkan sebagai “Think globally, but act locally”. Kita harus dapat  berpikir seperti orang jerman, akan tetapi kita tetap harus bersikap, berperilaku dan berbudaya sebagai orang Indonesia. Kita jangan lah menggunakan cara berpikir dalam bentuk  “Think globally and act globally”, ini akan berakibat timbulnya modernisasi, namun akan menjadi kebarat-baratan atau westernisasi. Begitu pula kita juga jangan menggunakan cara berpikir “Think locally”, hal inilah yang sering kita lakukan yang berakibat kita selalu terbelakang termarjinalkan dan terpinggirkan.
3.      Pedonan Kerja
Terakhir kita harus selalu memiliki program yang jelas ,terukur (ada alat ukurnya, yaitu KPI yang baru saja kita bahas diatas), challenging artinya program kerja kita harus menantang jangan program kerja yang sangat minimalis tidak menantang. Terakhir program kerja itu harus applicable atau dapat dijangkau dengan mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatan kita tentunya atau dengan kata lain dengan kerja keras. Program kerja kita jangan sampai terlalu muluk-muluk atau utopia (hanya impian belaka yang tidak ralistis). Program  kita harus istilahnya “membumi atau grounded”, berdasarkan atas SWOT  pihak lain, baik dari pihak supplier bahan misalnya ataupu dari penyalur atau distributor, ataupun dari pemasok teknologi misalnya. Kemandirian ini dapat ditingkatkan biasanya dengan cara membentuk kerja sama bisnis atau networking, atau mungkin dengan kerja sama yang disebut outsourcing, patungan ataupun joint venturing dan sebagainya.


Comments

Popular posts from this blog

supervision of school management

1 CHAPTER I PRELIMINARY A. Background Education is a very strategic tool within preserving the value system that evolves in life.   Process education not only provides participants with knowledge and understanding educate, but more directed to the formation of attitudes, behaviors and the personality of learners, given the development of communication, information and the presence of print and electronic media does not always bring positive influence for learners. The educator's job in this context helps to condition the pesera educate on the attitude, behavior or the right personality, in order to be able to become agents of modernization  for himself, the environment, society and anyone encountered without having to distinguish the tribe, religion, race and class.   Education is directed towards humanizing human beings, or help the process of   hominization  and humanization, its intent and implementation the educational p...

makalah evaluasi pembelajaran

BAB 1 PENDAHULUAN A.     Latar belakang Evaluasi atau penilaian sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan social lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya sudah wajar atau belum. Dalam pendidikan Islam evaluasi merupakan salah satu komponen dari system pendidikan islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Untuk itu seorang guru harus benar-benar mempersiapkan dengan benar evaluasi tersebut, Sebelum menyiapkan evaluasi belajar guru terlebih dahulu harus mengetahui apa esensi dari penilaian itu sendiri. Dalam makalah ini akan diulas beberapa poin yang tentunya berkaitan dengan penilaian, yang k...

learning style

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses perubahan baik prilaku, pengetahuan dan budaya. Hal ini terkait dengan bagaimana proses interaksi terjalin dengan efektif, saat guru koofratif dengan peserta didik yaitu tidak membeda-bedakan perlakuan. Disamping guru harus bersikap arif, bijaksana dan penuh kasih sayang sebagai landasan dalam mentranformasikan ilmu pengetahuan, sikap dan budaya, bahkan guru dituntut untuk senantiasa mengetahui karakteristik peserta didik di antaranya; Pertama Baground hight quality personality (latar belakang kualitas perseorangan). Latar belakang inilah yang kemudian peerta didik mempunyai gaya belajar masing-masiang misalnya; 40 jumlah peserta didik pasti memiliki gaya belajar yang berbeda-beda sesuai dengan bakat dan prilaku yang dibawanya. Kedua Sosial budaya yaitu peranan dan status seseorang tentunya memiliki status social yang heterogen pula seperti halnya; latar belakang keluarga yang termasuk golongan High Class (ti...