A. ANALISIS MODEL KESEIMBANGAN
KLASIK
1.
Karakteristik Analisis Keseimbangan Klasik
Karakteristik
analisis dapat dilihat dari beberapa aspek , diantaranya asumsi – asumsi,
fondasi mikronya, fokus perhatian pada sisi penawaran, dan dimensi waktu.
A.
Asumsi
– asumsi
Asumsi yang mendasari
model IS-LM merupakan kombinasi asumsi model Klasik dan Keynes, yaitu :
1. Pasar
akan selalu dalam keseimbangan
2. Berlakunya
hukum walras : Hukum walras mengatakan bila perekonomian terdapat n pasar, dan
sebanyak n-1 pasar telah berada dalam keseimbangan, maka pasar ke-n niscaya
telah mencapai keseimbangan
3. Fungsi
uang sebagai alat transaksi dan spekulasi
4. Perekonomian
adalah perekonomian tertutup
B.
Pentingnya
Fondasi Analisis Keseimbangan Mikro
Analisis
keseimbangan makro klasik merupakan Analisis keseimbangan makro klasik
merupakan pengembangan lebih lanjut dari analisis keseimbangan mikro. Dalam
padangan kaum klasik, perekonomian secara makro akan berada dalam keseimbangan
jika individu-individu dalam perekonomian terlebih dahulu berada dalam
keseimbangan. Artinya, setiap produsen telah mencapai laba maksimum. Itulah
sebabnya dalam mempelajari analisis makro klasik, kita harus mempelajari
tentang perilaku konsumen, perilaku produsen dan pasar persaingan sempurna.
Dari
penjelasan ini nampak bahwa apa yang diproduksi (penawaran) akan terserap oleh
permintaan, sampai pasar mencapai keseimbangan. Memang ada kemungkinan terjadi
kelebihan permintaan tau penawaran, tatapi sifatnya sangat sementara, sampai
pasar kembali berada dalam keseimbangan. Karenanya, yang lebih diperhatikan
adalah sisi penawaran. Sebab jika penawaran terganggu konsumen dan atau
produsen tidak atau belum mencapai keseimbangan.
Disamping
itu, Klasik mengakui adanya perbedaan dimensi jangka waktu analisis. Analisis
jangka pendek umumnya berdimensi < 5 tahun. Dalam jangka panjang semua input
bersifat variabel. Sementra itu, juga, dilihat dari sisi penawaran, dalam
jangka panjang perekonomian dianggap berada dalam kondisi dimanfaatkan secara
penuh (full employment). Yang dimaksud dengan full employment adalah kondisi di
mana faktor-faktor produksi yang ada, terutama barang modal dan tenaga kerja,
tingkat pemanfaatannya 96 %.
Dalam
model klasik, produksi merupakan fungsi dari jumlah barang modal yang tersedia
(K) dan jumlah tenaga kerja (L). Y = f(K, L) Keseimbangan pasar tenaga kerja
tercapai ketika permintaan tenaga kerja sama dengan tingkat penawarannya.
Ketika
itu, baik produsen maupun tnaga kerja telah mencapai kondisi optimal. Produsen
mencapai keuntungan maksimum, tenaga kerja mencapai utuilitas maksimum. Klasik
memandang uang hanya sebagai alat tukar, maka uang tidak dapat mempengaruhi
tingkat output. Uang hanya mempengaruhi
permintaan agregat. Penambahan jumlah uang beredar akan mengingkatkan
permintaan agregat.
C. Pentingnya analisis sisi penawaran
Konsekuensi
Dari
penjelasan pada butira dan b di atas adalah tidak ada masalah dari sisi
permintaan. Apa yang diproduksi akan terserap oleh permintaan, sampai pasar
mencapai keseimbangan. Memang ada kemungkinan terjadi kelebihan permi ntaan dan
penawaran, teetapi sifatnya sangat sementara,sampai pasar kembali berada dalam
keseimbangan. Karenanya, yang perlu lebih diperhatikan adalah sisi penawaran.
Sebab
jika penawaran terganggu, konsumen dan atau produsen tidak atau belum mencapai
keseimbangan. Pentingnya analisis sisi penawaran dari teori klasik dapat
dipahami bila melihat situasi dan kondisi masyarakat pada saat teori ekonomi
modern mulaim berkembang (abad 18 dan sesudahnya dibarat).
Pada
waktu itu masyarakat barat baru dalam tahap awal perkembangan. Tekhnologi belum
begitu maju, tingkat kelahiran dan kematian penduduk sangat tinggi,sehingga
jumlah penduduk relative konstan karena tingkat pertambahannya begitu lambat.
Perekonomian masih berada dalam tahap pemenuhan kebutuhan sendiri, di mana
kegiatan utamanya adalah pertanian pengumpulan hasil alam, terutam apeternakan
dan perikanan. Tingkan penggunaan uang (tingkat monetisasi)juga masih sangat
rendah.
Kelebihan
produksi yang dimiliki oleh satu individu (keluarga) akan dipertukarkan (dengan
produk lain yang dibutuhkan)dengan kelebihan produksi yang juga di alami oleh
individu (keluarga)lain. Pertukaran baru terjadi jika terdapat pertemuan
kebutuhan antara dua pihak. Proses pertukaran berlangsung muka berhadapan muka,
sehingga proses tawar menawar terjadi tanpa perantara (auction market).
Mereka
jug ahidup di alam yang relative keras(empat musim) di mana kegiatan pertanian
tidak bias dilakukan sepanjang tahun. Karena itu yang menjadi masalah adalah
bagaiman mengusahakan agar alam dapat menghasilkan lebih banyak dan lebih baik.
Itulah sebabnya sisi penawaran sangat perlu diperhatikan. Di era modern
sekarang ini, analisis sisi penawaran masih cukup relevan, baik di
Negara-negara maju (eropa barat, amerika utara, dan jepang ) maupun di NSB,
termasuk Indonesia. Sebab tanpa insentif dan stimulasi di sisi penawaran
perekonomian sulit berkembang
Contoh : Penawaran
Minyak Sawit Pasar minyak sawit dunia hingga pada tahun 2005 mencapai total
produksi lebih dari 33 juta ton, lebih dari 85% diantaranya diproduksi oleh
Malaysia dan Indonesia. Pertumbuhan produksi minyak sawit oleh Malaysia dan
Indonesia terus tumbuh secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir sejalan
dengan ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit yang meningkat dengan tingkat
pertumbuhan di atas 7% per tahun (BPS. 2005).
D.
Analisis
jangka pendek dan jangka panjang
Perbedaan
dimensi jangka waktu dalam analisis dalam model keseimbangan klasik juga
mencakup pengertian waktu keronologis. Analisis jangka pendek umumnya
berdimensi waktu < 5 tahun. Dalam jangka panjang semua input bersifat
variabel. Sementara itu, juga dilihat dari sisi penawaran , dalam jangka
panjang perekonomian di anggap berada dalam kondisi di manfaatkan / dikaryakan
secara penuh (full employment). Yang di maksud dengan full employment adalah
kondisi di mana faktor faktor produksi yang ada, terutama barang modal dan
tenaga kerja, tingkat permanfaatannya > 96%.
Perbedaan jangka pendek
dan jangka panjang.
- Jangka Pendek
Didalam jangka pendek
apabila sebagian dari faktor produksi di anggap tetap jumlahnya. Contoh:
Perbandingan perusahaan roti dengan perusahaan pengangkutan udara.
- Jangka Panjang
Bahwa
dalam jangka panjang setiap faktor produksi dapat ditambah jumlahnya kalau
memang hal tersebut diperlukan. Contoh:Jumlah alat-alat produksi dapat di
tambah,penggunaan mesin-mesin dapat di rombak dan dapat di pertinggi
efisiensinya,jenis barang-barang baru dapat diproduksikan.
2. Fungsi Produksi Agregat
Model
perilaku ekonomi individu atau agregat merupakan suatu penyerdehanaan dari
masalah ekonomi dunia nyata yang lebih kompleks dan rumit. Dalam penyusunan
model ini, para ekonom memusatkan perhatian pada apa yang mereka anggap sebagai
determinan penting dari berbagai fenomena yang di analisis. Misalnya , dalam
menganalisis tingkat output agregat, perekonomian perlu di bagi menjadi
beberapa sector pengeluaran, yaitu : rumah tangga, perusahaan,pemerintah,dan
sector internasional, maka ekonom dapat meramalkan tingkat output agregat.
Dalam model klasik ,
produksi merupakan fungsi dari jumlah barang modal yang tersedia (K) dan tenaga
kerja (L).
Y=f(K,L)
Dimana:
Y= output atau produksi
agregat (PDB)
K= Stok barang modal
L= tenaga kerja
Dalam jangka pendek,
stok barang modal dianggap tetap, sehinnga fungsi produksi menjadi :
Y=f(K ,L)
Dimana:
K = Stok barang modal
dengan jumlah konstan
Karena itu , tingkat
produksi agregat semata-mata ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang
digunakan:
Y=f(L)
∂Y /∂L>0 dan
∂2Y/∂2Y/∂2L<0
Artinya,
pada awalnya penambahan tenaga kerja akan meningkatkan produksi agregat, tetapi
Karen berlakunya hukum pertambahan hasil yang makin menurun , sampai jumlah
tertentu penambahan tenaga kerja akan menurunkan output agregat. Dalam fungsi
agregat jangka pendek, dengan input variable adalah tenaga kerja
Diagram
10.1.a adalah fungsi produksi agregat
jangka pendek, dengan input variabel adalah tenaga kera.bentuk kurva yang
seperti huruf S (kurva S) menunjukan
berlakunya hukum penambahan hasil yang makin menurun. Hukum tersebut lebih
terlihat pada kurva produksi marjinal (Diagram 10.1.b) yang menunjukan
penurunan produksi marjinal setelah jumlah tenaga kerja yang digunakan > L1.
Kurva MPL dalam analisis keseimbangan makro klasik.
3. Kesempatan kerja dalam
keseimbangan
Yang
dimaksud dengan kesempatan kerja adalah jumlah kesempatan kerja yang tersedia
pada pasar tenaga kerja dalam keseimbangan. Kesempatan kerja dalam keseimbangan
tidak mencerminkan kesempatan kerja yang sebenarnya tersedia. Sebab ,
kesempatan kerja dalam keseimbagan merupakan interaksi antara kekuatan permintaan
dengan penawaran tenaga kerja.
a.
Permintaan tenaga kerja
Permintaan
tenaga kerja dalam keseimbanga adalah jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan
perusahaan untuk mencapai lba maksimum. Karena beroperasi dalam pasar
persaingan sempurna , maka posisis perusahaan adalah pricetakaer, dimana haraga
tyang ditetapkan pasar merupakan penerimaan marjinal ( marginal revenue,
disingkat MR) perusahaan. Untuk mencapai kondisi laba maksimum, perusahaan
harus menyamakan MR dengan MC (MR=MC).
Pada
saat belajar tentang teori biaya, biaya marjinal atau marjinal cost MC adaalh
tambahan biaya yang harus dikeluarkan karena menambah output sebanyak satu
unit. Juga MC mempunyai hubungan terbalik dengan produksi marjinal tenaga kerja
(MPL), sehingga jika upah per orang tenaga kerja adalah W, maka biaya marjinal (MC)
adalah:
MC= W/MPL
Karena laba maksimum tercapai
pada saat MR=P=MC, maka:
P=W/MPL
Atau
MPL= W/P
Persamaan ini
menggambarkan fungsi permintaan tenaga kerja , yang secara umum dapat ditulis
sebagai:
DL= f(W/P)
(W/P)
disebut sebagai upah riil (real wage). Upah riil akan berubah jika upah nominal
dan atau harga berubah. Jika tingkat upah nominal dianggap tetap, dari
persamaan (W/P) terlihat bahwa upah riil akan menjadi lebih rendah bila tingkat
harga jual barang makin tinggi. Misalnya, awalnya upah nominal adalah Rp
10.000/hari,sedangkan harga jual perunit output adalah Rp 1000 maka upah riil
tenaga kerja adalah 10. Bila harga jual perunit naik manjadi Rp 2000 maka upah
riil menjadi 5. Dengan asumsi upah nominal tetap, maka kenaikan harga jual
output menyebabkan upah riil menjadi lebih murah.
Tingkat
upah riil juga akan turun jika harga jual barang tetap, tetapi tingkat upah
nominal turun. Bila harga jual perunit output adalah Rp 1000 maka upah rii pada
upah nominal Rp 10000 atau sama dengan 10 adalah lebih murah dibandingkan
dengan bila upah nominal Rp 20000/hari (samadengan 20).
Bila
upah riil turun , produsen akan mau menambah tenaga kerja yang akan digunakan.
Sebab, misalnya jika harga jual naik, produsen mau meningkatkan produksinya,
yang dapat berarti meningkatkan permintaan tenaga kerja. Dengan kata lain,
permintaan terhadap tenaga kerja berhubungan terbalik dengan tingkat upah riil:
∂L/∂(W/P) < 0
Jika
upah riil turun, permintaan terhadap tenaga kerja meningkat. Begitu sebaliknya.
Dari Persamaan ini jumlah tenaga kerja yang memberikan keuntungan maksimum
tercapai pada saat upah riil (W/P) sama dengan produksi marjinal tenaga kerja
(MPL).
Sumbu
vertikal pada diagram di atas menunukan besarnya MPL dan upah rill
(W/P). Perusahaan akan mencapai laba maksimum jika jumlah tenaga kerja yang
digunakan sebesar L*.sebab pada saat itu M/P=MPL. Jika perusahaan
menggunakan tenaga kerja lebih banyak atau lebih sedikit dari pada L*.
b.
Penawaran Tenaga kerja
Penawaran
tenaga kerja adalah jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh individu (konsumen)
pada berbagai tingkat upah(nominal), dalam upaya memaksimumkan utilitas
hidupnya. Jadi, dalam analisis makro klasik, penawaran tenaga kerja merupakan
konsep keseimbangan konsumen.
Untuk
memaksimumkan kegunaan utilitasnya, konsumen harus memaksimumkan utilitas
kegiatan konsumsinya. Untuk memaksimumkan kegiatan konsumsinya, konsumen harus
mempunyai pengahasilan agar dapat membeli barang dan jasa. Dia harus bekerja !
Jumlah
jam kerja yang ditawarkan konsumen sangat tergantung pada prefensinya tentang
bekerja atau tidak bekerja dan biaya ekonomi(opportunity cost) dari tidak
bekerja. Maksudnya, konsumen mempunyai pilihan kombinasi alokasi waktunya(yang
satu hari maksimal 24 jam bekerja) untuk bekerja atau tidak bekerja. Jika
memilih tidak bekerja, dia dapat menikmati waktunya untuk kegiatan lain, tetapi
dia akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Keduanya dapat
dikombinasikan untuk mencapai utilitas maksimum sesuai dengan prefensinya(digambarkan
dalam kurva indiferensi). Bagi yang kurang suka bekerja mungkin, waktu yang
dialokasikan untuk bekerja adalah lebih sedikit dibandingkan waktu untuk
bekerja. Sebaliknya mereka yang kecanduan bekerja(work holic)hampir semua
waktunya yang 24 sehari digunakan untuk bekerja .
Sama
seperti produsen, pertimbangan utama konsumen untuk mengalokasikan jam kerjanya
adalah tingakt upah riil. Jika upah riil makin tinggi, maka biaya ekonomi dari
tidak bekerja akan makin mahal. Konsumen akan menambah jam kerjanya untuk
menambah penghasilan.Dengan penghasilan yang tinggi, konsumen akan mencapai
kondisi keseimbangan ditingkat yang lebih tinggi juga. Atau utilitas hidup
konsumen makin tinggi
Dalam
kondisi normal,konsumen tidak ingin menambah jam kerjanya jika upah riil tidak
meningkat. Sehingga hubungan positif antara upah riil dengan penawaran tenaga
kerja(jam kerja) adalah :
SL=f(w/p)
Dimana :
SL= Penawaran tenaga
kerja
(W/P)= Upah riil
Hubungan positif antara
penawaran tenaga kerja dengan tingkat upah riil dapat divisualisasikan dalam
kurva penawaran tenaga kerja berikut ini.
c.
Keseimbangan pasar tenaga kerja dan tingkat ouput
Kerja
bersaing dengan waktu luang (leisure). Jika para pekerja member nilai positif
pada waktu luang, terdapat kenaikan manfaat negate dihubungkan dengan tiap
tambahan jam input tenaga kerja. Kita akan mengansumsikan bahwa kenaikan
manfaat yang negative dari kerja dapat dibayar dengan kenaikan balas jasa
material .
Pada
diagram di bawahnya (diagram 10.4.b) terlihat jika jumlah tenaga kerja yang
digunakan sebesar L*, maka tingkat produksi pada kondisi keseimbangan adalah
Y*. Besarnya Y* dapat dihitung dengan berdasarkan fungsi produksi, Y=f(L) atau
persamaan (10.3)
Jumlah Uang yang
beredar , Keseimbangan Ekonomi , dan Tingkat Harga
a.
Pengaruh Jumlah Uang Yang Beredar Terhadap Permintaan Agregat
Karena
fungsi uang hanya sebagai alat tukar, maka uang tidak dapat mempengaruhi
tingkat output. uang hanya mempengaruhi permintaan agregat. Penambahan jumlah
uang yang beredar akan meningkatkan permintaan agregat.
b.
Penawaran Agregat
Sementara
itu, dalam anlisis klasik, perekonomian berada dalam kondisi kesempatan kerja
penuh ( full employment ). Konsekuensi dari asumsi ini adalah tingkat penawaran
tidak dapat ditambah lagi. Secara grafis hal itu ditunjukkan dengan tegak
lurusnya kurva penawaran agregat (AS) seperti tampak pada Diagram I.5.b.
misalkan saja, kondisi full employment menghasilkan output rill sebesar 2000
unit, yang dapat juga dinotasikan sebagai Y12 .
c.
pengaruh proposal jumlah uang beredar terhadap inflasi
keseimbangan
ekonomi dalam kasus di atas akan tercapai jika AD = AS. Analisis grafis tentang
pengaruh penambahan jumlah uang beredar terhadap tingkat output keseimbang dan
tingkat harga dapat dilakukan dengan menggabungkan diagram 10.6 berikut ini.
Pada
diagram 10.6 di atas, penambahan jumlah uang yang beredar sebesar 25% per tahun
akan menyebabkan inflasi 25% per tahun. Pengaruh peningkatan jumlah uang beredar
terhadap inflasi adalah proporsional. Hal ini menunjukan asumsi netralitas
uang.
B. ANALISIS
MODEL KESEIMBANGAN KEYNESIAN
1.
Pentinnya sisi permintaan agregat
Permintaan
dan Penawaran Agregat - berikut adalah penjelasan mengenai Defisini Permintaan
dan Penawaran Agregat, Permintaan Agregat adalah keseluruhan permintaan
terhadap barang & jasa oleh pengguna dalam ekonomi.) Permintaan agregat
menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan
jasa sesuai dengan tingkat harga.
Permintaan
Agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli
oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga.Permintaan agregat dapat
ditampilkan dengan menggunakan Kurva atau tabel yang menunjukkan berbagai jenis
barang & jasa yang dibeli secara kolektif pada tingkat harga tertentu.
Kurve permintaan agregat mempunyai slope negatif. .Faktor-faktor yang
menyebabkan Kurva permintaan agregat ber-slope negatif adalah:
·
Efek Kekayaan
·
Biaya yang digunakan oleh produsen
tergantung pada kekayaan yang dimiliki. Keduanya memiliki satu hubungan yang
positif. (Kekayaan mengacu pada pemegangan uang, saham, obligasi, rumah serta
asset fisik yang lain. Kekayaan yang dimiliki dipengaruhi oleh tingkat harga)
·
Dampak Harga Bunga
·
Efek harga bunga ditujukan karena
perubahan tingkat haraga mempengaruhi harga bunga.
·
Efek ini mempengaruhi produksi &
investasi
·
Efek Pembelian Asing (Ekspor &
Impor)
·
Jumlah ekspor & impor dalam suatu
ekonomi tergantung pada harga Domestic & asing
Kurva
Permintaan agregat (aggregate demand curve ) adalah kurva yang menjelaskan
hubungan antara jumlah output agregat yang diminta dengan tingkat harga ketika
semua variabel lain dianggap konstan. ada dua cara yang digunakan untuk
menurunkan kurva permintaaan agregat. Pendekatan yang pertama dan yang paling
sederhana adalah penekatan teori jumlah uang dimena permintaan agregat
ditentukan semata-mata oleh jumlah uang. Sementara pedekatan yang kedua
didasarkan pada pengujian perilaku bagian-bagian
komponen permintaan agregat seperti konsumsi, investasi, pengeluaran
pemerintah dan ekspor bersih. Pendekatan
ini juga mempertimbangkan peran jumlah uang dalam menentukan permintaan
agregat, tetapi tidak secara langsung, meleinkan dengan cara mempertimbangkn
bagaimana perubahan jumlah uang mempengaruhi komponen-komponen permintaan
agregat.
2.
Total pengeluaran agregat
Total
pengeluaran adalah total pnyumlahan C+I+G+(X-M). Jika pengeluaran agregat (aggregate expenditure) Di notasikan
sebagai AE, maka;
AE = C + I + G (X –M)
=C0 + By + I0 + G0
+(X0 + M0)...................................................................................................(11,6)
Agar
lebih sederhana, maka (X0 – M0)
Dinotasikan sebagai NX, yang merupakan expor neto. Dengan demikian persamaan
pengeluaran agregat menjadi;
AE = C0 + bY
+ I0 + G0 + (X0 + M0).................................................................................................(11,8)
3.
pendapatan nasional dalam keseimbangan
Dimana:
Y =
PDB
C =
komsumsi rumah tangga
S =
tabungan
4.
model keseimbangan perekonomian
tertutup dua sektor
Model
keseimbangan keynesian yang paling sedrhana adalah model perekonomian dua sektor
perekonomian tidak melakukan hubungan ekonomi dengan dunia internasional dan
terdiri atas sektor rumah tangga dan dunia usaha.
a. auput keseimbangan
Dalam
perekonomian tertutup dua sektor pengeluaran agregat adalah tatal pengeluaran
konsumsi rumah tangga dan investasi sektor dunia usaha.
BAB
III
PENUTUP
Keseimpulan
Keseimbangan umum merupakan
suatu kondisi dimana keseimbangan disuatu pasar dengan sejalan keseimbangan
diasar lain . dalam kondisi ini, terciptanya harga dan kuantitas keseimbangan
yang umum berlalu disetiap pasar, setiap komoditas atau disetiap segmen. Keseimbangan umum bisa terjadi dalam
pasar yaang sama (komoditas yang berbeda), keseimbangan umum antar komoditas
dan keseimbangan umum dalam segmen. Dalam pratik keseimbangan yang terjadi
disuatu segmen akan berpengaruh terhadap segmen lainnya.
Proses
tercapainya keseimbangan umum terjadi secara alamiah, dimana adanya gangguan
atau tidak keseimbangan disuatu segmen akan lansung direspon keseimbangan disegmen
lain, seseimbangan umum yang terjadi secara alamiah berakibat pada adanya
kecendrungan keseimbangan yang homogen antar sektor atau antar komoditas, hal
ini membawa inflasi bahwa adanya peningkatan permintaan disuatu segmen bisa
berdampak pada berkurangnya permintaan di segmen lain, berkurangnya permintaan
di segmen ini bisa mencerminkan turunnya kejastraan dikelompok tersebut.
Comments
Post a Comment
name:
country