Skip to main content

analisis keseimbangan (pengantar ekonomi makro)

A. ANALISIS MODEL KESEIMBANGAN KLASIK
1.  Karakteristik Analisis Keseimbangan Klasik
Karakteristik analisis dapat dilihat dari beberapa aspek , diantaranya asumsi – asumsi, fondasi mikronya, fokus perhatian pada sisi penawaran, dan dimensi waktu.
A.    Asumsi – asumsi
Asumsi yang mendasari model IS-LM merupakan kombinasi asumsi model Klasik dan Keynes, yaitu :
1.    Pasar akan selalu dalam keseimbangan
2.    Berlakunya hukum walras : Hukum walras mengatakan bila perekonomian terdapat n pasar, dan sebanyak n-1 pasar telah berada dalam keseimbangan, maka pasar ke-n niscaya telah mencapai keseimbangan
3.    Fungsi uang sebagai alat transaksi dan spekulasi
4.    Perekonomian adalah perekonomian tertutup

B.     Pentingnya Fondasi Analisis Keseimbangan Mikro
Analisis keseimbangan makro klasik merupakan Analisis keseimbangan makro klasik merupakan pengembangan lebih lanjut dari analisis keseimbangan mikro. Dalam padangan kaum klasik, perekonomian secara makro akan berada dalam keseimbangan jika individu-individu dalam perekonomian terlebih dahulu berada dalam keseimbangan. Artinya, setiap produsen telah mencapai laba maksimum. Itulah sebabnya dalam mempelajari analisis makro klasik, kita harus mempelajari tentang perilaku konsumen, perilaku produsen dan pasar persaingan sempurna.
Dari penjelasan ini nampak bahwa apa yang diproduksi (penawaran) akan terserap oleh permintaan, sampai pasar mencapai keseimbangan. Memang ada kemungkinan terjadi kelebihan permintaan tau penawaran, tatapi sifatnya sangat sementara, sampai pasar kembali berada dalam keseimbangan. Karenanya, yang lebih diperhatikan adalah sisi penawaran. Sebab jika penawaran terganggu konsumen dan atau produsen tidak atau belum mencapai keseimbangan.
Disamping itu, Klasik mengakui adanya perbedaan dimensi jangka waktu analisis. Analisis jangka pendek umumnya berdimensi < 5 tahun. Dalam jangka panjang semua input bersifat variabel. Sementra itu, juga, dilihat dari sisi penawaran, dalam jangka panjang perekonomian dianggap berada dalam kondisi dimanfaatkan secara penuh (full employment). Yang dimaksud dengan full employment adalah kondisi di mana faktor-faktor produksi yang ada, terutama barang modal dan tenaga kerja, tingkat pemanfaatannya 96 %.
Dalam model klasik, produksi merupakan fungsi dari jumlah barang modal yang tersedia (K) dan jumlah tenaga kerja (L). Y = f(K, L) Keseimbangan pasar tenaga kerja tercapai ketika permintaan tenaga kerja sama dengan tingkat penawarannya.
Ketika itu, baik produsen maupun tnaga kerja telah mencapai kondisi optimal. Produsen mencapai keuntungan maksimum, tenaga kerja mencapai utuilitas maksimum. Klasik memandang uang hanya sebagai alat tukar, maka uang tidak dapat mempengaruhi tingkat output.  Uang hanya mempengaruhi permintaan agregat. Penambahan jumlah uang beredar akan mengingkatkan permintaan agregat.
C.     Pentingnya analisis sisi penawaran Konsekuensi
Dari penjelasan pada butira dan b di atas adalah tidak ada masalah dari sisi permintaan. Apa yang diproduksi akan terserap oleh permintaan, sampai pasar mencapai keseimbangan. Memang ada kemungkinan terjadi kelebihan permi ntaan dan penawaran, teetapi sifatnya sangat sementara,sampai pasar kembali berada dalam keseimbangan. Karenanya, yang perlu lebih diperhatikan adalah sisi penawaran.
Sebab jika penawaran terganggu, konsumen dan atau produsen tidak atau belum mencapai keseimbangan. Pentingnya analisis sisi penawaran dari teori klasik dapat dipahami bila melihat situasi dan kondisi masyarakat pada saat teori ekonomi modern mulaim berkembang (abad 18 dan sesudahnya dibarat).
Pada waktu itu masyarakat barat baru dalam tahap awal perkembangan. Tekhnologi belum begitu maju, tingkat kelahiran dan kematian penduduk sangat tinggi,sehingga jumlah penduduk relative konstan karena tingkat pertambahannya begitu lambat. Perekonomian masih berada dalam tahap pemenuhan kebutuhan sendiri, di mana kegiatan utamanya adalah pertanian pengumpulan hasil alam, terutam apeternakan dan perikanan. Tingkan penggunaan uang (tingkat monetisasi)juga masih sangat rendah.
Kelebihan produksi yang dimiliki oleh satu individu (keluarga) akan dipertukarkan (dengan produk lain yang dibutuhkan)dengan kelebihan produksi yang juga di alami oleh individu (keluarga)lain. Pertukaran baru terjadi jika terdapat pertemuan kebutuhan antara dua pihak. Proses pertukaran berlangsung muka berhadapan muka, sehingga proses tawar menawar terjadi tanpa perantara (auction market).
Mereka jug ahidup di alam yang relative keras(empat musim) di mana kegiatan pertanian tidak bias dilakukan sepanjang tahun. Karena itu yang menjadi masalah adalah bagaiman mengusahakan agar alam dapat menghasilkan lebih banyak dan lebih baik. Itulah sebabnya sisi penawaran sangat perlu diperhatikan. Di era modern sekarang ini, analisis sisi penawaran masih cukup relevan, baik di Negara-negara maju (eropa barat, amerika utara, dan jepang ) maupun di NSB, termasuk Indonesia. Sebab tanpa insentif dan stimulasi di sisi penawaran perekonomian sulit berkembang
Contoh : Penawaran Minyak Sawit Pasar minyak sawit dunia hingga pada tahun 2005 mencapai total produksi lebih dari 33 juta ton, lebih dari 85% diantaranya diproduksi oleh Malaysia dan Indonesia. Pertumbuhan produksi minyak sawit oleh Malaysia dan Indonesia terus tumbuh secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir sejalan dengan ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit yang meningkat dengan tingkat pertumbuhan di atas 7% per tahun (BPS. 2005).
D.    Analisis jangka pendek dan jangka panjang
Perbedaan dimensi jangka waktu dalam analisis dalam model keseimbangan klasik juga mencakup pengertian waktu keronologis. Analisis jangka pendek umumnya berdimensi waktu < 5 tahun. Dalam jangka panjang semua input bersifat variabel. Sementara itu, juga dilihat dari sisi penawaran , dalam jangka panjang perekonomian di anggap berada dalam kondisi di manfaatkan / dikaryakan secara penuh (full employment). Yang di maksud dengan full employment adalah kondisi di mana faktor faktor produksi yang ada, terutama barang modal dan tenaga kerja, tingkat permanfaatannya > 96%.
Perbedaan jangka pendek dan jangka panjang.
- Jangka Pendek
Didalam jangka pendek apabila sebagian dari faktor produksi di anggap tetap jumlahnya. Contoh: Perbandingan perusahaan roti dengan perusahaan pengangkutan udara.
- Jangka Panjang
Bahwa dalam jangka panjang setiap faktor produksi dapat ditambah jumlahnya kalau memang hal tersebut diperlukan. Contoh:Jumlah alat-alat produksi dapat di tambah,penggunaan mesin-mesin dapat di rombak dan dapat di pertinggi efisiensinya,jenis barang-barang baru dapat diproduksikan.
2. Fungsi Produksi Agregat
Model perilaku ekonomi individu atau agregat merupakan suatu penyerdehanaan dari masalah ekonomi dunia nyata yang lebih kompleks dan rumit. Dalam penyusunan model ini, para ekonom memusatkan perhatian pada apa yang mereka anggap sebagai determinan penting dari berbagai fenomena yang di analisis. Misalnya , dalam menganalisis tingkat output agregat, perekonomian perlu di bagi menjadi beberapa sector pengeluaran, yaitu : rumah tangga, perusahaan,pemerintah,dan sector internasional, maka ekonom dapat meramalkan tingkat output agregat.
Dalam model klasik , produksi merupakan fungsi dari jumlah barang modal yang tersedia (K) dan tenaga kerja (L).
Y=f(K,L)
Dimana:
Y= output atau produksi agregat (PDB)
K= Stok barang modal
L= tenaga kerja
Dalam jangka pendek, stok barang modal dianggap tetap, sehinnga fungsi produksi menjadi :
Y=f(K ,L)
Dimana:
K = Stok barang modal dengan jumlah konstan
Karena itu , tingkat produksi agregat semata-mata ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang digunakan:
Y=f(L)
∂Y /∂L>0 dan ∂2Y/∂2Y/∂2L<0
Artinya, pada awalnya penambahan tenaga kerja akan meningkatkan produksi agregat, tetapi Karen berlakunya hukum pertambahan hasil yang makin menurun , sampai jumlah tertentu penambahan tenaga kerja akan menurunkan output agregat. Dalam fungsi agregat jangka pendek, dengan input variable adalah tenaga kerja
Diagram 10.1.a  adalah fungsi produksi agregat jangka pendek, dengan input variabel adalah tenaga kera.bentuk kurva yang seperti huruf  S (kurva S) menunjukan berlakunya hukum penambahan hasil yang makin menurun. Hukum tersebut lebih terlihat pada kurva produksi marjinal (Diagram 10.1.b) yang menunjukan penurunan produksi marjinal setelah jumlah tenaga kerja yang digunakan > L1. Kurva MPL dalam analisis keseimbangan makro klasik.
3. Kesempatan kerja dalam keseimbangan
Yang dimaksud dengan kesempatan kerja adalah jumlah kesempatan kerja yang tersedia pada pasar tenaga kerja dalam keseimbangan. Kesempatan kerja dalam keseimbangan tidak mencerminkan kesempatan kerja yang sebenarnya tersedia. Sebab , kesempatan kerja dalam keseimbagan merupakan interaksi antara kekuatan permintaan dengan penawaran tenaga kerja.
a. Permintaan tenaga kerja
Permintaan tenaga kerja dalam keseimbanga adalah jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan untuk mencapai lba maksimum. Karena beroperasi dalam pasar persaingan sempurna , maka posisis perusahaan adalah pricetakaer, dimana haraga tyang ditetapkan pasar merupakan penerimaan marjinal ( marginal revenue, disingkat MR) perusahaan. Untuk mencapai kondisi laba maksimum, perusahaan harus menyamakan MR dengan MC (MR=MC).
Pada saat belajar tentang teori biaya, biaya marjinal atau marjinal cost MC adaalh tambahan biaya yang harus dikeluarkan karena menambah output sebanyak satu unit. Juga MC mempunyai hubungan terbalik dengan produksi marjinal tenaga kerja (MPL), sehingga jika upah per orang tenaga kerja adalah W, maka biaya marjinal (MC) adalah:
MC= W/MPL
Karena laba maksimum tercapai pada saat MR=P=MC, maka:
P=W/MPL
Atau
MPL= W/P
Persamaan ini menggambarkan fungsi permintaan tenaga kerja , yang secara umum dapat ditulis sebagai:
DL= f(W/P)
(W/P) disebut sebagai upah riil (real wage). Upah riil akan berubah jika upah nominal dan atau harga berubah. Jika tingkat upah nominal dianggap tetap, dari persamaan (W/P) terlihat bahwa upah riil akan menjadi lebih rendah bila tingkat harga jual barang makin tinggi. Misalnya, awalnya upah nominal adalah Rp 10.000/hari,sedangkan harga jual perunit output adalah Rp 1000 maka upah riil tenaga kerja adalah 10. Bila harga jual perunit naik manjadi Rp 2000 maka upah riil menjadi 5. Dengan asumsi upah nominal tetap, maka kenaikan harga jual output menyebabkan upah riil menjadi lebih murah.
Tingkat upah riil juga akan turun jika harga jual barang tetap, tetapi tingkat upah nominal turun. Bila harga jual perunit output adalah Rp 1000 maka upah rii pada upah nominal Rp 10000 atau sama dengan 10 adalah lebih murah dibandingkan dengan bila upah nominal Rp 20000/hari (samadengan 20).
Bila upah riil turun , produsen akan mau menambah tenaga kerja yang akan digunakan. Sebab, misalnya jika harga jual naik, produsen mau meningkatkan produksinya, yang dapat berarti meningkatkan permintaan tenaga kerja. Dengan kata lain, permintaan terhadap tenaga kerja berhubungan terbalik dengan tingkat upah riil:
∂L/∂(W/P) < 0
Jika upah riil turun, permintaan terhadap tenaga kerja meningkat. Begitu sebaliknya. Dari Persamaan ini jumlah tenaga kerja yang memberikan keuntungan maksimum tercapai pada saat upah riil (W/P) sama dengan produksi marjinal tenaga kerja (MPL).
Sumbu vertikal pada diagram di atas menunukan besarnya MPL dan upah rill (W/P). Perusahaan akan mencapai laba maksimum jika jumlah tenaga kerja yang digunakan sebesar L*.sebab pada saat itu M/P=MPL. Jika perusahaan menggunakan tenaga kerja lebih banyak atau lebih sedikit dari pada L*.



b. Penawaran Tenaga kerja
Penawaran tenaga kerja adalah jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh individu (konsumen) pada berbagai tingkat upah(nominal), dalam upaya memaksimumkan utilitas hidupnya. Jadi, dalam analisis makro klasik, penawaran tenaga kerja merupakan konsep keseimbangan konsumen.
Untuk memaksimumkan kegunaan utilitasnya, konsumen harus memaksimumkan utilitas kegiatan konsumsinya. Untuk memaksimumkan kegiatan konsumsinya, konsumen harus mempunyai pengahasilan agar dapat membeli barang dan jasa. Dia harus bekerja !
Jumlah jam kerja yang ditawarkan konsumen sangat tergantung pada prefensinya tentang bekerja atau tidak bekerja dan biaya ekonomi(opportunity cost) dari tidak bekerja. Maksudnya, konsumen mempunyai pilihan kombinasi alokasi waktunya(yang satu hari maksimal 24 jam bekerja) untuk bekerja atau tidak bekerja. Jika memilih tidak bekerja, dia dapat menikmati waktunya untuk kegiatan lain, tetapi dia akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Keduanya dapat dikombinasikan untuk mencapai utilitas maksimum sesuai dengan prefensinya(digambarkan dalam kurva indiferensi). Bagi yang kurang suka bekerja mungkin, waktu yang dialokasikan untuk bekerja adalah lebih sedikit dibandingkan waktu untuk bekerja. Sebaliknya mereka yang kecanduan bekerja(work holic)hampir semua waktunya yang 24 sehari digunakan untuk bekerja .
Sama seperti produsen, pertimbangan utama konsumen untuk mengalokasikan jam kerjanya adalah tingakt upah riil. Jika upah riil makin tinggi, maka biaya ekonomi dari tidak bekerja akan makin mahal. Konsumen akan menambah jam kerjanya untuk menambah penghasilan.Dengan penghasilan yang tinggi, konsumen akan mencapai kondisi keseimbangan ditingkat yang lebih tinggi juga. Atau utilitas hidup konsumen makin tinggi
Dalam kondisi normal,konsumen tidak ingin menambah jam kerjanya jika upah riil tidak meningkat. Sehingga hubungan positif antara upah riil dengan penawaran tenaga kerja(jam kerja) adalah :
SL=f(w/p)
Dimana :
SL= Penawaran tenaga kerja
(W/P)= Upah riil
Hubungan positif antara penawaran tenaga kerja dengan tingkat upah riil dapat divisualisasikan dalam kurva penawaran tenaga kerja berikut ini.
c. Keseimbangan pasar tenaga kerja dan tingkat ouput
Kerja bersaing dengan waktu luang (leisure). Jika para pekerja member nilai positif pada waktu luang, terdapat kenaikan manfaat negate dihubungkan dengan tiap tambahan jam input tenaga kerja. Kita akan mengansumsikan bahwa kenaikan manfaat yang negative dari kerja dapat dibayar dengan kenaikan balas jasa material .

Pada diagram di bawahnya (diagram 10.4.b) terlihat jika jumlah tenaga kerja yang digunakan sebesar L*, maka tingkat produksi pada kondisi keseimbangan adalah Y*. Besarnya Y* dapat dihitung dengan berdasarkan fungsi produksi, Y=f(L) atau persamaan (10.3)
Jumlah Uang yang beredar , Keseimbangan Ekonomi , dan Tingkat Harga
a. Pengaruh Jumlah Uang Yang Beredar Terhadap Permintaan Agregat
Karena fungsi uang hanya sebagai alat tukar, maka uang tidak dapat mempengaruhi tingkat output. uang hanya mempengaruhi permintaan agregat. Penambahan jumlah uang yang beredar akan meningkatkan permintaan agregat.
b. Penawaran Agregat
Sementara itu, dalam anlisis klasik, perekonomian berada dalam kondisi kesempatan kerja penuh ( full employment ). Konsekuensi dari asumsi ini adalah tingkat penawaran tidak dapat ditambah lagi. Secara grafis hal itu ditunjukkan dengan tegak lurusnya kurva penawaran agregat (AS) seperti tampak pada Diagram I.5.b. misalkan saja, kondisi full employment menghasilkan output rill sebesar 2000 unit, yang dapat juga dinotasikan sebagai Y12 .
c. pengaruh proposal jumlah uang beredar terhadap inflasi
keseimbangan ekonomi dalam kasus di atas akan tercapai jika AD = AS. Analisis grafis tentang pengaruh penambahan jumlah uang beredar terhadap tingkat output keseimbang dan tingkat harga dapat dilakukan dengan menggabungkan diagram 10.6 berikut ini.
Pada diagram 10.6 di atas, penambahan jumlah uang yang beredar sebesar 25% per tahun akan menyebabkan inflasi 25% per tahun. Pengaruh peningkatan jumlah uang beredar terhadap inflasi adalah proporsional. Hal ini menunjukan asumsi netralitas uang.
B. ANALISIS MODEL KESEIMBANGAN KEYNESIAN
1.  Pentinnya sisi permintaan agregat
Permintaan dan Penawaran Agregat - berikut adalah penjelasan mengenai Defisini Permintaan dan Penawaran Agregat, Permintaan Agregat adalah keseluruhan permintaan terhadap barang & jasa oleh pengguna dalam ekonomi.) Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga.
Permintaan Agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga.Permintaan agregat dapat ditampilkan dengan menggunakan Kurva atau tabel yang menunjukkan berbagai jenis barang & jasa yang dibeli secara kolektif pada tingkat harga tertentu. Kurve permintaan agregat mempunyai slope negatif. .Faktor-faktor yang menyebabkan Kurva permintaan agregat ber-slope negatif adalah:
·         Efek Kekayaan
·         Biaya yang digunakan oleh produsen tergantung pada kekayaan yang dimiliki. Keduanya memiliki satu hubungan yang positif. (Kekayaan mengacu pada pemegangan uang, saham, obligasi, rumah serta asset fisik yang lain. Kekayaan yang dimiliki dipengaruhi oleh tingkat harga)
·         Dampak Harga Bunga
·         Efek harga bunga ditujukan karena perubahan tingkat haraga mempengaruhi harga bunga.
·         Efek ini mempengaruhi produksi & investasi
·         Efek Pembelian Asing (Ekspor & Impor)
·         Jumlah ekspor & impor dalam suatu ekonomi tergantung pada harga Domestic & asing
Kurva Permintaan agregat (aggregate demand curve ) adalah kurva yang menjelaskan hubungan antara jumlah output agregat yang diminta dengan tingkat harga ketika semua variabel lain dianggap konstan. ada dua cara yang digunakan untuk menurunkan kurva permintaaan agregat. Pendekatan yang pertama dan yang paling sederhana adalah penekatan teori jumlah uang dimena permintaan agregat ditentukan semata-mata oleh jumlah uang. Sementara pedekatan yang kedua didasarkan pada pengujian perilaku  bagian-bagian komponen permintaan agregat seperti konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah  dan ekspor bersih. Pendekatan ini juga mempertimbangkan peran jumlah uang dalam menentukan permintaan agregat, tetapi tidak secara langsung, meleinkan dengan cara mempertimbangkn bagaimana perubahan jumlah uang mempengaruhi komponen-komponen permintaan agregat.
2. Total pengeluaran agregat
Total pengeluaran adalah total pnyumlahan C+I+G+(X-M). Jika pengeluaran agregat  (aggregate expenditure) Di notasikan sebagai AE, maka;
AE = C + I + G (X –M)
      =C0 + By + I0 + G0 +(X0 + M0)...................................................................................................(11,6)
Agar lebih sederhana, maka  (X0 – M0) Dinotasikan sebagai NX, yang merupakan expor neto. Dengan demikian persamaan pengeluaran  agregat menjadi;
AE = C0 + bY + I0 + G0 + (X0 + M0).................................................................................................(11,8)





3. pendapatan nasional dalam keseimbangan
            Dimana:
                        Y  = PDB
                        C  = komsumsi rumah tangga
                        S  = tabungan
4. model  keseimbangan perekonomian tertutup  dua sektor
Model keseimbangan keynesian yang paling sedrhana  adalah model perekonomian dua sektor perekonomian tidak melakukan hubungan ekonomi dengan dunia internasional dan terdiri atas sektor rumah tangga dan dunia usaha.
a. auput keseimbangan
Dalam perekonomian tertutup dua sektor pengeluaran agregat adalah tatal pengeluaran konsumsi rumah tangga dan investasi sektor dunia usaha.
BAB III
PENUTUP
Keseimpulan
            Keseimbangan umum merupakan suatu kondisi dimana keseimbangan disuatu pasar dengan sejalan keseimbangan diasar lain . dalam kondisi ini, terciptanya harga dan kuantitas keseimbangan yang umum berlalu disetiap pasar, setiap komoditas atau disetiap  segmen. Keseimbangan umum bisa terjadi dalam pasar yaang sama (komoditas yang berbeda), keseimbangan umum antar komoditas dan keseimbangan umum dalam segmen. Dalam pratik keseimbangan yang terjadi disuatu segmen akan berpengaruh terhadap segmen lainnya.

            Proses tercapainya keseimbangan umum terjadi secara alamiah, dimana adanya gangguan atau tidak keseimbangan disuatu segmen akan lansung direspon keseimbangan disegmen lain, seseimbangan umum yang terjadi secara alamiah berakibat pada adanya kecendrungan keseimbangan yang homogen antar sektor atau antar komoditas, hal ini membawa inflasi bahwa adanya peningkatan permintaan disuatu segmen bisa berdampak pada berkurangnya permintaan di segmen lain, berkurangnya permintaan di segmen ini bisa mencerminkan turunnya kejastraan dikelompok tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

supervision of school management

1 CHAPTER I PRELIMINARY A. Background Education is a very strategic tool within preserving the value system that evolves in life.   Process education not only provides participants with knowledge and understanding educate, but more directed to the formation of attitudes, behaviors and the personality of learners, given the development of communication, information and the presence of print and electronic media does not always bring positive influence for learners. The educator's job in this context helps to condition the pesera educate on the attitude, behavior or the right personality, in order to be able to become agents of modernization  for himself, the environment, society and anyone encountered without having to distinguish the tribe, religion, race and class.   Education is directed towards humanizing human beings, or help the process of   hominization  and humanization, its intent and implementation the educational p...

makalah evaluasi pembelajaran

BAB 1 PENDAHULUAN A.     Latar belakang Evaluasi atau penilaian sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan social lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya sudah wajar atau belum. Dalam pendidikan Islam evaluasi merupakan salah satu komponen dari system pendidikan islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Untuk itu seorang guru harus benar-benar mempersiapkan dengan benar evaluasi tersebut, Sebelum menyiapkan evaluasi belajar guru terlebih dahulu harus mengetahui apa esensi dari penilaian itu sendiri. Dalam makalah ini akan diulas beberapa poin yang tentunya berkaitan dengan penilaian, yang k...

learning style

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses perubahan baik prilaku, pengetahuan dan budaya. Hal ini terkait dengan bagaimana proses interaksi terjalin dengan efektif, saat guru koofratif dengan peserta didik yaitu tidak membeda-bedakan perlakuan. Disamping guru harus bersikap arif, bijaksana dan penuh kasih sayang sebagai landasan dalam mentranformasikan ilmu pengetahuan, sikap dan budaya, bahkan guru dituntut untuk senantiasa mengetahui karakteristik peserta didik di antaranya; Pertama Baground hight quality personality (latar belakang kualitas perseorangan). Latar belakang inilah yang kemudian peerta didik mempunyai gaya belajar masing-masiang misalnya; 40 jumlah peserta didik pasti memiliki gaya belajar yang berbeda-beda sesuai dengan bakat dan prilaku yang dibawanya. Kedua Sosial budaya yaitu peranan dan status seseorang tentunya memiliki status social yang heterogen pula seperti halnya; latar belakang keluarga yang termasuk golongan High Class (ti...